Petani Sembalun Tolak Bantuan Bibit Bawang Putih dari Pemerintah, Mengapa?

TrubusNews
Astri Sofyanti
12 Mar 2019   16:00 WIB

Komentar
Petani Sembalun Tolak Bantuan Bibit Bawang Putih dari Pemerintah, Mengapa?

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kasubdit I Bidang Industri dan Perdagangan (Indag) Ditreskrimsus Polda Nusa Tenggara Barat (NTB), Ajun Komisaris Besar Polisi Feri Jaya Satriansyah mengungkapkan, jajarannya saat ini tengah menyelidiki proses pendistribusian bibit bawang putih di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, NTB.

Upaya penyelidikan dilakukan pihak kepolisian lantaran adanya gejolak dari petani yang menolak bibit bawang putih bantuan pemerintah untuk Tahun Anggaran 2018.

“Langkah ini merupakan bagian dari peran kepolisian untuk mengetahui permasalahan yang memicu timbulnya reaksi penolakan bantuan bibit bawang putih dari pemerintah,” demikian disampaikan Feri dalam keterangan tertulisnya, Selasa (12/3).

Baca Lainnya : Pascagempa Lombok, Produksi Bawang Putih di Sembalun Kembali Menggeliat

Diakui Feri, permasalahan dalam pendistribusian bibit bawang putih di Kecamatan Sembalun kembali terulang. Patut diketahui, permasalahan serupa sebelumnya juga pernah terjadi pada tahun 2017 lalu. Puncak permasalahannya diduga karena adanya penolakan dari petani menerima bantuan bibit bawang putih beberapa waktu lalu.

Sebanyak belasan karung merah berisi bibit bawang putih tanpa keterangan bobot itu ditolak masyarakat petani. Para petani di Sembalun justru menyerahkan belasan karung berisi bibit ke Polsek Sembalun.

Bibit bantuan pemerintah itu diserahkan dengan harapan pihak kepolisian dapat membantu petani dalam menyelesaikan permasalahan bobot yang tidak sesuai dengan persetujuan awal.

Baca Lainnya : Kaki Gunung Rinjani, Surganya Bawang Putih

Salah seorang anggota kelompok tani yang tidak mau disebutkan identitasnya mengungkapkan, bobot untuk satu karung yang diterima dari pemerintah menyusut dari 25 kilogram menjadi 5-8 kilogram saja.

"Seharusnya dalam satu karung itu beratnya bisa sampai 25 kilogram, tapi ini kurang. Ada yang satu karung hanya berisi 5 kilo saja," jelas petani tersebut.

Berbeda lagi dengan permasalahan yang sebelumnya terungkap dalam proses pendistribusian bibit pertama pada periode Januari-Februari 2019, diduga ada lahan seluas 300 hektare dari 1.100 hektare lahan milik petani yang telah terverifikasi oleh Dinas Pertanian Lombok Timur ternyata fiktif. Hal tersebut terungkap karena tidak adanya bukti dari keberadaan nama-nama kelompok tani yang diduga menguasai lahan hingga 300 hektare tersebut. [RN]

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: