Padamkan Karhutla di Riau, 10 Helikopter Dikerahkan

TrubusNews
Astri Sofyanti
12 Mar 2019   13:32 WIB

Komentar
Padamkan Karhutla di Riau, 10 Helikopter Dikerahkan

Helikopter (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Wakil Komandan Satuan Tugas (Satgas) Siaga Darurat Karhutla Riau, Edwar Sanger mengungkapkan, guna membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau, 10 helikopter dan satu pesawat Cassa dikerahkan.

BNPB mengerahkan dua helikopter Kamov KA-32 dan Mi8-MTV, dari KLHK sebanyak satu helikopter Bell 412, bantuan dari TNI berupa satu heli Puma, dua unit Bell 412, dan helikopter Bell 429 Polri.

Selain itu TNI juga mengerahkan satu pesawat Cassa 212 yang digunakan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

“Satu unit pesawat Cassa dikerahkan untuk teknologi modifikasi cuaca (TMC)," terang Edwar Sanger seperti beritakan Antara, Selasa (12/3).

Edwar menjelaskan, armada Satgas udara itu membantu kerja tim pemadam kebakaran gabungan yang bergerak di darat. Armada Satgas udara merupakan gabungan dari instansi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri dan perusahaan swasta setempat.

Baca Lainnya: Sebanyak 2,2 Juta Liter Air Dipakai untuk Atasi Karhutla di Riau

Sedangkan, dua Superpuma dan heli Mi-8 milik Sinarmas juga turut dikerahkan. Selain itu, dua helikopter milik BNPB yakni Kamov KA-32 dikerahkan untuk melakukan pemadaman karhutla di Pangkalan Terap, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan.

“Dua heli itu masing-masing menjatuhkan 123 water bombing di Pelalawan,” lanjut Edwar.

Sementara itu, pemadaman Karhutla di Pangkalan Terap, mengerahkan satu helikopter Mi-8 dari APP Sinarmas yang melakukan 23 kali water bombing atau sekitar 115 ribu liter air.

Kemudian, helikopter milik KLHK yakni tipe Bell 412 membantu pemadaman Karhutla di Jl. Datuk Madan Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai. Heli tersebut menjatuhkan 22 kali water bombing di Bukit Batrem.

“Untuk TMC menggunakan Cassa 212 sudah 20 sortie (terbang) dan menebar garam sebanyak 15.800 kilogram," tutur Edwar.

Sementra itu, berdasarkan data Satgas gabungan, Karhutla yang terjadi di Provinsi Riau sejak Januari tahun ini luasnya sudah lebih dari 1.761 hektare dan mayoritas terjadi di daerah pesisir.

Data sampai awal Maret 2019, total areal lahan gambut yang terbakar bertambah banyak karena terjadi kebakaran di Desa Harapan dan Gayung Kiri Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti seluas sekitar 29 hektare.

Kemudian di Desa Kemang Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan seluas sekira satu Ha, di Parit Undal dan Parit Muksin Desa Segamai Kecamatan Teluk Meranti juga Kabupaten Pelalawan seluas dua hektare.

Kemudian di Jl Simpang Saleh Desa Teluk Lecah Kecamatan Rupat Kabupaten Bengkalis seluas 10 Ha, dan di Jl Satria Ujung, Jl Satria, Jl Mekar dan Jl Karya Ujung Desa Ulu Pulau Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis meluas jadi dua Ha.

Baca Lainnya: Kisah Ular Api dan Hantu Obor, di Tengah Upaya Pemadaman Karhutla di Pulau Rupat

Hanya dua dari 12 kabupaten/kota di Riau yang pada tahun ini tidak dilanda Karhutla, yakni Rokan Hulu dan Kuantan Singingi. Daerah paling rendah luas Karhutla sejauh ini ada di Kabupaten Indragiri Hulu yakni 1,5 Ha, sedangkan daerah paling luas dilanda Karhutla adalah Kabupaten Bengkalis yang mencapai 955,5 Ha.

Daerah-daerah pesisir tercatat paling banyak dilanda kebakaran. Selain Bengkalis ada juga Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) mencapai 254,5 Ha, Kepulauan Meranti 216.4 Ha, dan Kota Dumai 133 Ha. Kemudian Kabupaten Siak seluas 70,75 Ha, Kota Pekanbaru 21,76 Ha, Kampar 19,5 Ha, Indragiri Hilir 48 Ha, dan Pelalawan 40,5 Ha.

Meski begitu, Edwar menegaskan, karhutla di sejumlah daerah sudah mulai bisa dikendalikan.

“Beberapa daerah mulai turun hujan meski sifatnya lokal, seperti di Kota Pekanbaru. Sampai Senin sore (11/3) kualitas udara juga relatif baik dari pencemaran debu akibat Karhutla,” pungkasnya. [RN/KW]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: