Inilah Dampak Penutupan Gunung Rinjani bagi Perekonomian Warga Lombok

TrubusNews
Astri Sofyanti
12 Mar 2019   11:31 WIB

Komentar
Inilah Dampak Penutupan Gunung Rinjani bagi Perekonomian Warga Lombok

Pendakian ke Gunung Rinjani (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) merupakan salah satu destinasi wisata populer di kalangan pecinta alam, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Gunung dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini menjadi gunung tertinggi kedua di Indonesia.

Kepala Balai TNGR, Sudiyono menjelaskan, kompleks hutan Gunung Rinjani mempunyai luas sekitar 125.000 hektare yang terdiri dari beberapa fungsi hutan. Di mana 41.330 hektare atau 32,86 persen merupakan hutan konservasi yang dikelola Balai TNGR.

Pada tahun 1997, Gunung Rinjani ditetapkan sebagai Taman Nasional sebagai Pusat Konservasi Flora Fauna khas Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Destinasi Ekowisata Dunia.

Baca Lainnya: Tragis, Perbaikan Jalur Gunung Rinjani Pascagempa Terkendala Anggaran

Dikatakan Sudiyono, sejak April 2018, Gunung Rinjani telah ditetapkan sebagai Unesco Global Geopark. Taman Nasional Gunung Rinjani ini berada di tiga kabupaten yakni Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur.

Selain itu, jika dilihat berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS), TNGR termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) di NTB.

“Dengan kata lain keberadaan Gunung Rinjani ini juga berdampak bagi kehidupan masyarakat lokal,” jelas Sudiyono kepada wartawan di Mataram, Selasa (12/3).

Dirinya mengungkapkan, banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari keberadaan Gunung Rinjani sebagai destinasi wisata. Dirinya mencatat terdapat 90 pemegang ijin track organizer (TO), baik badan usaha maupun perorangan; 449 pemandu wisata; dan 1.157 porter.

Sudiyono menyebutkan, minimal terdapat 1.696 Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat secara langsung dalam objek destinasi wisata Gunung Rinjani.

Baca Lainnya: 8 Bulan Usai Gempa, Pendakian Gunung Rinjani Masih Ditutup untuk Wisata

Lebih jauh pihaknya mengungkapkan, jumlah tersebut belum termasuk unit penginapan yang berada di sekitar TNGR. Sebelum gempa mengguncang Pulau Lombok, dirinya mencatat jumlah penginapan yang berada di sekitar TNGR ada 90 unit, dengan rincian 31 penginapan di Senaru, 29 penginapan di Sembalun, dan 30 penginapan di Tetebatu.

Dirinya beranggapan, jumlah penginapan juga diperkirakan lebih banyak karena belum termasuk penginapan yang berada di desa-desa yang agak jauh dari kawasan TNGR seperti Sapit dan Bebidas karena masih banyak yang belum terdata.

Menurutnya, usaha wisata yang dilakukan warga setempat bisanya dalam bidang jasa sewa alat pendakian, jasa transportasi, jasa penjualan makanan minuman di dalam dan sekitar kawasan, serta sektor pertanian dan peternakan, restoran, hingga agen-agen wisata di luar lingkar Rinjani.

"Para pelaku usaha yang terkait dengan wisata pendakian tersebut umumnya melibatkan masyarakat lokal," pungkasnya. [RN/KW]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: