Meski Banyak Petani Beralih ke Sawit, Sumut Masih di Rangking 8 Produksi Pisang Nasional

TrubusNews
Syahroni
11 Mar 2019   21:15 WIB

Komentar
Meski Banyak Petani Beralih ke Sawit, Sumut Masih di Rangking 8 Produksi Pisang Nasional

Ilustrasi perkebunan pisang di Sumut. (Foto : Trubus.id/ Reza Perdana)

Trubus.id -- Meski petani semakin tergiur menanam kelapa sawit untuk menggantikan tanaman pisang yang dianggap tidak lagi menguntungkan, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) masih tetap menempati rangking 8 nasional dalam produksi pisang dengan total produksi sebesar 150.691 ton.

Berdasarkan data Dinas Tanamal Pangan dan Hortikultura Sumut (angka tetap/ATAP) 2017 mencatat, Sumut menyumbang 2,10 persen produksi nasional dengan lahan seluas 1.286 hektare. Pemerintah, melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan APBD, tahun 2018 juga mendistribusikan bibit pisang sebanyak 26.000 batang untuk Asahan, Deli Serdang dan Langkat.

Kepala UPTD Benih Induk Hortikultura Gedung Johor, Baharuddin Siregar mengatakan, Sumut terkenal dengan pisang barangan. Pihaknya menargetkan produksi benih pisang dari kultur jaringan sebanyak 20.000 batang untuk tahun ini.

Baca Lainnya : Wujudkan Sumut Agraris, KTNA Diharapkan Turut Bangkitkan Sektor Pertanian

“Hingga November 2018 sudah terealisasi sebanyak 18.000 batang,” katanya, Senin (11/3).

Dijelaskannya dari 20.000 batang, umumnya pisang barangan. Juga ada pisang kepok. Sedangkan di lahan milik BIH Gedung Johor sudah ada beberapa rante yang ditanami pisang barangan dari kultur jaringan serta sudah berbuah walaupun masih dibungkus dengan kain putih sebagai pelindung.

“Pisang barangan dari kultur jaringan cukup menjanjikan dilihat dari jumlah sisirnya yang bisa lebih banyak,” ujarnya.

Namun demikian, lanjutnya, tetap harus dilakukan perawatan sebagaimana pisang barangan non kultur jaringan dengan membersihkan pelepah, memberikan pupuk organik, dan perlakuan lainnya sesuai standar operasional prosedurnya (SOP).

Baca Lainnya : Kopi Tetap Jadi Primadona di Sumut Meski Luas Lahannya Kalah Dibanding Kelapa Sawit

“Dari pokok aslinya, lebih tahan terhadap serangan hama penyakit. Tapi kalau ditanam di lahan tanah sudah terserang, tetap saja kena,” ucapnya.

Sementara itu, seorang pendamping petani, Nasional Ginting menyebut, Dusun Kampung Dalam, Desa Talun Kenas, Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deliserdang, dahulu adalah sentra produksi pisang barangan di Sumut. 

Pada tahun 2013, dusun tersebut pernah mengekspor pisang sebanyak 850 kg ke Singapura. Tetapi, petani belum bisa meningkatkan atau mempertahankan kuantitas dan kualitas produksi pisang barangan yang potensial. 

Diakuinya. selama bertahun-tahun luas lahan pertanaman pisang barangan kian menyusut karena banyaknya petani yang mengalihkannya menjadi tanaman lain, karena serangan jamur fusarium dan bakteri yang membuat produksi terus merosot.

Baca Lainnya : Masuk Musim Gugur Daun, Produksi Karet di Sumut Mulai Menurun

“Belum lagi adanya serangan penyakit bunchy top karena banana virus dan menyebar lewat kutu daun Pentalonia nigronervosa yang membuat tanaman kerdil. Banyak yang menggantinya dengan kelapa sawit,” ungkapnya. 

Utema Silan dari UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut menerangkan, pisang barangan paling banyak tumbuh di Talun Kenas, Sibiru-biru dan Pancurbatu.

Tetap sangat disayangkan karena serangan hama dan penyakit telah menghancurkan pertanaman pisang barangan petani dan membuat mereka tidak semangat lagi untuk membudidayakannya.

“Untuk masalah pisang barangan empat, layu fusarium, layu bakteri, sigatoka dan bunchy top. Semua bisa diatasi. Tetapi ini, mengawalinya harus kesepakatan semua dan tidak bisa sendiri,” tandasnya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: