Mata Rantai Perdagangan Terlalu Panjang, Disparitas Harga Beras di Sumsel Terlalu Tinggi

TrubusNews
Astri Sofyanti
11 Mar 2019   20:30 WIB

Komentar
Mata Rantai Perdagangan Terlalu Panjang, Disparitas Harga Beras di Sumsel Terlalu Tinggi

Ilustrasi (Foto : Trubus.id/ Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Baru-baru ini Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa mata rantai perdagangan beras di Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi yang paling panjang di Indonesia. Untuk itu, BI menyoroti hasil survey Pola Distribusi dari Badan Pusat Statistik (PBS).

BI menduga, kondisi mata rantai perdagangan beras di Sumsel melibatkan empat rantai sehingga kenaikan harga beras dari produsen ke konsumen bisa sampai 28,58 persen.

Kepala BI Provinsi Sumatera Selatan, Yunita Resmi Sari mengatakan, data BPS tersebut harus menjadi perhatian berbagai pihak karena menyebabkan disparitas harga cukup jauh antara harga di tingkat petani dengan konsumen.

Baca Lainnya : BPS: Jelang Puncak Panen Raya Harga Beras Diprediksi Turun

“Setiap rantai perdagangan pasti mengambil margin, ini menyebabkan akhirnya harga di tingkat konsumen menjadi tinggi,” demikian disampaikan Yunita melalui keterangan resminya di Palembang, Senin (11/3).

Lebih lanjut Yunita mengungkapkan, jika berkaca dari pengalaman provinsi lain, upaya penyederhanaan mata rantai perdagangan beras dapat dilakukan dengan cara menggabungkan rantai yang berdekatan. 

Menurutnya, rantai perdagangan beras di Sumsel terdiri dari atas produsen (penggilingan), agen, pedagang grosir, dan pedagang eceran sebelum tiba ke konsumen. Diakuinya upaya lain yang bisa dilakukan untuk memutus panjangnya mata rantai ini yaitu dengan melakukan zonasi untuk daerah penghasil beras. 

“Tapi kita harus mempelajari karakteristik daerah pemghasil beras terlebih dahulu. Apakah memungkinkan membangun pola dari pengepul ke perdagangan besar, seperti yang telah dilakukan di Jawa Barat,” lanjut Yunita.

Secara teori, dirinya meyakini bahwa cara ini bisa membuat harga beras di tingkat konsumen lebih murah.

Baca Lainnya : Mentan: Harga Beras Eceran Indonesia Tempati Urutan ke-81 Termahal di Dunia

Lebih lanjut diakui Yunita, Sumsel menjadi salah satu provinsi yang memiliki cakupan luas lahan dengan produksi beras terkonsentrasi di Kabupaten Banyuasin, Ogan Komering Ulu Timur, dan Musi Rawas. Sementara kendalanya yakni nfrastruktur jalan darat dinilai belum layak sehingga pendistribusian masih sedikit terganggu akibat akses jalan.

Senada dengan Kepala BI Provinsi Sumatera Selatan, Divisi Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Sumsel, Harry Widodo mengatakan, sebenarnya sudah ada upaya pemerintah untuk menjaga kestabilan harga besar agar terjangkau bagi konsumen. Di antaranya dengan mendirikan toko tani dan pasar tani yang dapat menjaga keseimbangan harga.

“Ini salah satu cara pemerintah memotong mata rantai perdagangan beras,” ucap Harry. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Ini 5 Daerah di Jawa Barat dengan Kasus Covid-19 Tertinggi

Peristiwa   11 Agu 2020 - 09:18 WIB
Bagikan:          
Bagikan: