Gawat, Hujan Terus Menerus di Artik Membuat Lapisan Es di Greenland Cepat Mencair

TrubusNews
Astri Sofyanti
11 Mar 2019   21:30 WIB

Komentar
Gawat, Hujan Terus Menerus di Artik Membuat Lapisan Es di Greenland Cepat Mencair

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Sejumlah ilmuwan yang tengah melakukan penelitian terbaru mengungkapkan, hujan dengan intensitas tinggi terus terjadi di tengah musim dingin yang kini melanda Artik. Kondisi ini dikhawatirkan akan mempercepat pencairan es di kawasan Greenland.

Para ilmuwan memantau, lapisan es Greenland dengan seksama karena menahan air beku dalam jumlah besar. Jika semua es tersebut mencair, tinggi permukaan laut akan meningkat hingga tujuh meter. Kondisi ini tentu saja akan berdampak pada pusat-pusat populasi pesisir di seluruh belahan dunia.

Bintik-bintik air biasanya turun sebagai salju di musim dingin daripada sebagai air hujan yang bisa menyeimbangkan pencairan es yang terjadi selama musim panas. Para ilmuwan mempelajari foto-foto lempengan es dari satelit tersebut dan menunjukkan area-area yang mengalami pencairan es. Mereka lantas mengombinasikan semua foto tersebut dengan data yang dikumpulkan dari 20 stasiun cuaca otomatis yang merekam waktu terjadinya hujan.

Baca Lainnya : Tiga Triliun Ton Es Hilang dari Benua Antartika Penyebab Naiknya Permukaan Laut Global

Hasil temuan mereka yang dipublikasikan dalam jurnal The Cryosphere menunjukkan bahwa meski di masa-masa awal penelitian hujan terjadi dua kali selama musim dingin. Angka tersebut meningkat tajam menjadi 12 kali di tahun 2012. Pada lebih dari 300 kejadian antara tahun 1979-2012, peneliti menemukan bahwa hujan memicu pencairan es.

Sebagian besar kejadian terjadi pada musim panas, ketika temperatur udara mencapai angka di atas nol derajat. Namun peningkatan hujan terjadi justru pada bulan-bulan musim dingin ketika kegelapan total musim dingin di kutub diperkirakan dapat menjaga suhu udara tetap berada di bawah titik beku.

"Kami terkejut bahwa terjadi hujan di musim dingin. Ini masuk akal karena kami melihat adanya aliran udara hangat yang naik dari selatan, namun tetap saja mengejutkan saat menyadari bahwa hal itu berhubungan dengan turunnya hujan," demikian disampaikan Penulis utama penelitian tadi, Dr Marilena Oltmanns dari pusat penelitian laut GEOMAR di Jerman, seperti diberitakan kepada BBC News, Senin (11/3).

Peneliti lain dalam studi tersebut, Prof Marco Tedesco dari Columbia University di New York, baru-baru ini mengungkapkan bahwa peningkatan aktivitas hujan memiliki dampak penting.

Baca Lainnya : Akibat Badai Artik, Wilayah di Amerika Serikat Membeku

Meskipun hujan turun di musim dingin, lalu es yang mencair kembali membeku, hujan tersebut telah mengubah karakteristik permukaan lapisan es hingga membuatnya lebih halus dan gelap, dan 'dipersiapkan' untuk mencairkan es lebih cepat ketika musim panas tiba. Semakin gelap es, semakin banyak panas yang terserap dari cahaya matahari lalu membuatnya mencair lebih cepat.

"Ini membuka pintu ke suatu dunia yang amatlah penting untuk dipelajari. Dampak potensial atas perubahan yang terjadi di musim dingin dan musim semi terhadap apa yang terjadi pada musim panas harus dipahami," ungkap Prof Tedesco.

Permukaan yang lebih halus, khususnya yang berbentuk `lensa es`, diakui Tedesco akan memudahkan cairan es mengalirinya lebih cepat dan menjadi lebih gelap, yang berarti semakin banyak cahaya matahari yang diserap, lalu mempercepat proses penghangatan. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Jokowi Perintahkan Perkuat Ekonomi Desa di Tengah Pandemi

Peristiwa   25 Sep 2020 - 09:39 WIB
Bagikan:          
Bagikan: