Sleman Produksi 800 Ton Sampah per Hari, Mayoritas Sampah Plastik

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
11 Mar 2019   11:01

Komentar
Sleman Produksi 800 Ton Sampah per Hari, Mayoritas Sampah Plastik

Tumpukan sampah plastik (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Yogyakarta mencatat produksi sampah wilayah tersebut setiap harinya mencapai 800 ton. Dari sampah sebanyak itu didominasi oleh sampah plastik.

Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pelayanan Persampahan DLH Kabupaten Sleman, Sri Restuti Nurhidayah mengungkapkan, pihaknya baru mampu menangani persoalan sampah di Kabupaten Sleman sekitar 52 persen.

“Dari 52 persen itu, 32 persen dibuang ke tempat pengelolaan sampah akhir (TPSA) Piyungan, Bantul, sebagian lainnya masih berserakan di jalan hingga sekolan,” terang Sri di Sleman, Yogyakarta, Senin (11/3).

Baca Lainnya: 2019, Pemkot Jogja Fokuskan Anggaran untuk Pemberdayaan Masyarakat

Lebih lanjut diakui Sri, penanganan sampah yang dilakukan mulai dari pengurangan dan pengelolaan sampah.

"Satu orang menghasilkan rata rata 0,65-0,7 kilo gram(Kg) sampah per orang per hari," katanya.

Dirinya mengakui kesulitan untuk penanganan sampah lebih kepada menyadarkan masyarakat. Sebab masyarakat lebih sering bersikap praktis.

“Masih banyak masyarakat berprilaku asal ada tumpukan sampah makan di situlah mereka membuang sampah, padahal tak selalu tumpukan sampah itu memjadi tempat pembuangan sampah,” lanjutnya.

Guna menangani permasalahan tersebut, DLH Sleman telah berkoordinasi dengan pemerintah setempat agar bisa menindak para pembuang sampah sembarangan.

Baca Lainnya: Pemkot Jogja Segera Jadikan Malioboro Kawasan Bebas Rokok

"Kami tidak bisa bekerja sendiri, untuk itu mulai dari tingkat padukuhan harus ikut andil," tambah Sri.

Untuk menghindari tumpukan sampah yang semakin banyak, DLH Kabupaten Sleman setiap harinya menerjunkan 34 truk pengangkut sampah.

“Warga Sleman yang ingin diangkut sampahnya harus membuat permohonan ke DLH dulu. Sebab truk sampah ini operasionalnya berdasarkan permohonan. Biasanya mereka yang tinggal di kawasan perkotaan, kalau desa biasanya sudah bisa mengelola sendiri," pungkasnya.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: