Sebanyak 2,2 Juta Liter Air Dipakai untuk Atasi Karhutla di Riau

TrubusNews
Astri Sofyanti
07 Mar 2019   13:00 WIB

Komentar
Sebanyak 2,2 Juta Liter Air Dipakai untuk Atasi Karhutla di Riau

Water Boombing mengatasi karhutla di Riau (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Raffles B Panjaitan mengungkapkan sebanyak 2,2 juta liter air digunakan untuk pengeboman air (water boombing) mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pekanbaru, Riau.

Diakui Raffles, pengeboman air untuk mengatasi kebakaran lahan turut dibantu sejumlah instansi salah satunya Badan Nasional Penanggungan Bencana (BNPB) sebanyak 180 kali dan sejumlah pihak swasta terkait.

Guna mengatasi karhutla di Riau, Raffles menyatakan pengeboman air dilakukan sudah ratusan kali menggunakan helikopter.

"Air yang dijatuhkan sejak awal 2019 sudah 2,2 juta liter air. Untuk KLHK sudah jatuhkan 171 kali water bombing," terang Rasffles di Riau, Kamis (7/3).

Baca Lainnya : Kisah Ular Api dan Hantu Obor, di Tengah Upaya Pemadaman Karhutla di Pulau Rupat

Dikatakan Raffles, sejumlah titik lokasi pemadaman difokuskan untuk menjatuhkan air adalah daerah Bengkalis, Rohil, Dumai hingga Meranti.

"Kami fokus di Dumai. Ada 9 unit helikopter kita siapkan juga, 1 dari LHK, BNPB 2 unit, swasta 2 unit dan TNI punya 4 unit heli," ujarnya.

Sementara itu, data yang dimiliki Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan terdapat penurunan luas area kebakaran di Riau. Per Januari hingga Maret 2019 terdapat 1.399 hektare luas area yang terbakar.

“Jumlah ini turun dari bulan yang sama di Januari-Maret 2018 yakni sebesar 4.277 hektar. Sementara titik hotspot se-Indonesia kini berjumlah 432 titik,” ujar Raffles menambahkan.

Baca Lainnya : Masuki Kemarau Periode Pertama, Sumatera - Kalimantan Waspada Karhutla

Selain melakukan pengeboman air, petugas juga membuat embung yang menjadi sumber air pemadaman api mengingat sumber air dan lokasi yang jauh dari permukiman.

“Banyak dari lokasi yang terbakar merupakan tanah gambut milik masyarakat. Di sekitar titik api asap berbau pekat dan sisa-sisa bara api masih terlihat di atas tanah,” tandasnya. [NN]

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: