Kerja Kementerian Belum Optimal Dituding jadi Penyebab Anjloknya Harga Ayam

TrubusNews
Astri Sofyanti
05 Mar 2019   21:30 WIB

Komentar
Kerja Kementerian Belum Optimal Dituding jadi Penyebab Anjloknya Harga Ayam

Ilustrasi (Foto : Trubus.id/ Ridwan Saymsu)

Trubus.id -- Informasi penurunan harga daging ayam yang terjadi di beberapa pasar tradisional di Indonesia sejak Februari 2019 lalu menuai banyak komentar dari para pengamat. Salah satunya datang dari Pengamat ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM), Defiyan Cori.

Menanggapi kabar penurunan harga daging ayam, Defiyan menilai lintas kementerian belum menjalankan fungsi dan tugasnya secara optimal. Berdasarkan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, sudah jelas mengatur apa saja fungsi dan tugas semua kementerian di negara kita.

Kementerian Pertanian misalnya, tugas pokoknya jelas menangani produksi pangan. Sementara Kementerian Perdagangan mengurus terkait perdagangan dan harga baik di tingkat petani maupun konsumen.

Baca Lainnya : Kementan Ungkap Harga Daging Ayam dan Sapi di Indonesia Bukanlah Tertinggi di Dunia

Diakuinya, pengaturan fungsi dan tugas kementerian diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 45 tahun 2015 tentang Kementerian Pertanian dan Perpres Nomor 48 Tahun 2015 tentang Kementerian Perdagangan. 

"Tugas dan fungsi masing-masing kementerian tersebut sebenarnya sudah clear dan sudah sinkron,” demikian disampaikan Defiyan melalui keterangan pers yang diterima di Jakarta, Selasa (5/3).

Selain itu dirinya juga sangat menyayangkan, adanya sejumlah pihak yang menuding pemerintah dan menyebutkan penurunan harga disebabkan karena pasokan yang berlebih. Menurutnya, kelebihan produksi daging ayam saat ini harusnya ditanggapi dengan positif.

"Ini kan sebenarnya positif, Pemerintah telah mampu mendukung peningkatan produksi daging ayam di dalam negeri. Daripada produksi kita kurang, nanti jatuh-jatuhnya akan impor lagi,” jelasnya.

Sementara itu, Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di Indonesia saat ini sebanyak 268.075 ribu jiwa, konsumsi per kapita 12,13 kg per tahun. Proyeksi produksi daging ayam nasional tahun ini berdasarkan data dari Kementerian Pertanian sebanyak 3.647,81 ribu ton, sedangkan kebutuhan daging ayam nasional tahun ini mencapai 3.251,75 ribu ton, sehingga mengalami surplus sebanyak 396,06 ribu ton.  

Baca Lainnya : Jokowi: Harga Beras Stabil, Daging Ayam Perlu Perhatian

Pihaknya mengungkapkan, untuk mengatasi kelebihan produksi unggas, dirinya telah meminta Kementerian Perdagangan untuk terus membuka peluang ekspor unggas maupun produk-produk turunannnya ke berbagai negara. 

“Nah ini kan harusnya menjadi tanggung jawab Kementerian Perdagangan untuk terus mendorong ekspor, melalui atase-atase perdagangannya yang ditugaskan di beberapa negara,” ujarnya lagi.

“Begitu harga di tingkat konsumen naik, pemerintah langsung cepat turun tangan melakukan operasi pasar, atau bahkan jika produksi kurang langung dipenuhi dengan impor. Langkah responsif juga seharusnya diambil ketika harga anjlok di tingkat peternak,” sambungnya.

Berdasarkan Undang-undang No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan disebutkan pada pasal 26 bahwa Kementerian Perdagangan menetapkan kebijakan harga, pengelolaan stok dan logistik, serta pengelolaan ekspor/impor dalam rangka menjamin stabilisasi harga kebutuhan pokok.

Baca Lainnya : Sertifikasi Jadi Solusi Tingkatkan Ekspor Telur dan Daging Ayam

Menurutnya, kondisi ini memerlukan sinergi untuk memformulasikan kebijakan yang tepat, manakala harga acuan baik di level petani maupun konsumen di bawah atau di atas harga acuan yang ditetapkan. Diakuinya, dalam hal ini Kementerian Perdagangan turut memiliki andil dalam menjaga stabilisasi harga.

Lebih lanjut, dirinya mengatakan bahwa daging ayam berdasarkan Perpres Nomor 71 Tahun 2015 merupakan satu diantara jenis bahan pangan pokok yang perlu dijaga ketersediaan dan stabilisasi harganya.  

Terlebih, menurutnya, sebagian besar penduduk Indonesia saat ini sudah terbiasa mengkonsumsi daging ayam sebagai salah satu sumber protein hewani setiap hari. “Sudah semestinya, barang kebutuhan pokok dan barang penting yang telah ditetapkan, termasuk di dalamnya daging ayam menjadi perhatian pemerintah dalam mengatur ketersediaan dan stabilisasi harga,” tandasnya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Jokowi Tinjau Posko Penanganan Karhutla di Riau

Peristiwa   21 Feb 2020 - 11:08 WIB
Bagikan: