Makna Hari Raya Nyepi untuk Manifestasi Keseimbangan Lingkungan

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
05 Mar 2019   20:30

Komentar
Makna Hari Raya Nyepi untuk Manifestasi Keseimbangan Lingkungan

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Pulau Bali segera menyambut Nyepi Tahun Saka 1941 pada 7 Maret mendatang. Hirup Pikuk "The Island of Gods" ini sebagai industri pariwisata segera padam  sementara, bersisian dengan matinya arus internet dan terang pijar lampu.

 Lalu apa sebenarnya makna "Nyepi" untuk masyarakat Hindu Bali?

Kepala Dinas Pariwisata, Anak Agung Juniarta Putra mengatakan, Nyepi tidak hanya identik dengan hari dimana masyarakat  tidak keluar rumah seharian atau sekadar memberi kesempatan untuk “mulat sarira” (introspeksi/kembali ke jati diri) dengan merenung atau meditasi. Lebih dari itu, Nyepi adalah keseimbangan untuk mencapai kedamaian termasuk dengan jagat alam raya

"Filosofi dari Nyepi bagi saya dan masyarakat Bali seperti 'mengistirahatkan' dalam sehari dari berbagai aktivitas yang dapat membuat alam itu rusak," terang Anak Agung Juniarta Putra, Selasa (5/3). 

Baca Lainnya : Sambut Hari Raya Nyepi, Umat Hindu di Medan Gelar Upacara Melasti di Pantai Pondok Permai

Anak Agung Juniarta Putra mengungkapkan, saat Nyepi dirinya bisa merasakan udara yang sangat segar di pagi hari, tenang dan tidak bising. Hanya hewan-hewan yang berinteraksi satu sama lain yang terdengar.

Tak hanya itu, dengan Nyepi, hasilnya menghemat kebutuhan listrik bisa dibandingkan pada  Earth Hour 2018 lalu. Jika  masyarakat Bali mematikan listrik selama 1 jam, dapat menghemat Rp249 Juta Bagaimana menghemat energi listrik selama 24 jam? 

"Bintang-bintang terlihat jelas bertaburan, begitupun dengan langit jernih di pagi hari," tambahnya. 

Ia juga menjelaskan, jika direnungi secara mendalam, perayaan Nyepi mengandung makna dan tujuan yang sangat dalam dan mulia. Seluruh rangkaian Nyepi merupakan sebuah dialog spiritual yang dilakukan umat Hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis sehingga ketenangan dan kedamaian hidup bisa terwujud. 

Mulai dari Melasti/mekiis dan nyejer/ngaturang bakti di Balai Agung adalah dialog spiritual manusia dengan Alam dan Tuhan Yang Maha Esa, dengan segala manifetasi-Nya serta para leluhur yang telah disucikan.

Tawur Agung dengan segala rangkaiannya adalah dialog spiritual manusia dengan alam sekitar dan ciptaan Tuhan yang lain yaitu para bhuta demi keseimbangan bhuana agung bhuana alit.

Baca Lainnya : Omed-omedan, Tradisi Unik 'Berciuman' Massal Usai Nyepi Berakhir

Pelaksanaan catur brata penyepian merupakan dialog spiritual antara diri sejati (Sang Atma) umat dengan sang pendipta (Paramatma) Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam diri manusia ada atman (si Dia) yang bersumber dan sang Pencipta Paramatma (Beliau Tuhan Yang Maha Esa). 

Ngembak Geni dengan Dharma Shantinya merupakan dialog spiritual antara kita dengan sesama. Sehingga melalui Perayaan Nyepi, dalam hening sepi kita kembai ke jati diri (mulat sarira) dan menjaga keseimbangan/keharmonisan hubungan antara kita dengan Tuhan, Alam lingkungan (Butha) dan sesama sehingga Ketenangan dan Kedamaian hidup bisa terwujud.

"Intinya hari Nyepi adalah dimana umat hindu melakukan amati geni yaitu mengadakan Samadhi pembersihan diri lahir batin. Pembersihan atas segala dosa yang sudah diperbuat selama hidup di dunia dan memohon pada yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang," terangnya. [RN]

 

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: