Waspada, 84 RW di Jakarta Masih Rawan Penyebaran Demam Berdarah

TrubusNews
Astri Sofyanti
05 Mar 2019   17:00 WIB

Komentar
Waspada, 84 RW di Jakarta Masih Rawan Penyebaran Demam Berdarah

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di DKI Jakarta dilaporkan masih cukup tinggi. DBD adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti dan menularkan ke manusia melalui gigitannya sehingga terjadi infeksi pada sistem peredaran darah.

Salah satu gejala penyakit mematikan ini diawali dengan demam, nyeri otot dan sendi, terdapat bintik merah atau ruam di kulit, disertai mual dan nyeri di ulu hati. Pada kasus penularan yang parah, gejala utamanya yakni pendarahan yang mengakibatkan syok. Kondisi ini tentu saja sangat membahayakan nyawa seseorang.

Hingga bulan Maret 2019, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan (dinkes) mencatat sebanyak 84 RW (Rukun Warga) di DKI Jakarta masih rentan terjangkit virus mematikan ini.

Baca Lainnya : DBD Masih Menghantui Jakarta, Dinkes Catat 2.343 Kasus

Dinkes DKI Jakarta merinci yakni sebanyak 3 RW terdapat di wilayah Jakarta Pusat, 7 RW di Jakarta Utara, 11 RW di kawasan Jakarta Selatan, 25 RW di Jakarta Timur, dan 38 RW di Jakarta Barat.

“Kami sudah memetakan per kecamatan. Jadi IR atau Insidence Rate (tingkat kemunculan kasus baru) per kecamatannya sebagai bagian dari kami untuk lebih fokus. Selain itu, kami juga sudah memetakan RW yang rawan terjangkit DBD,” terang Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, di Jakarta, Selasa (5/3).

Lebih lanjut dikatakan Widyastuti, jadi nanti fokusnya tidak semua RW sama penanggulangannya. Meski begitu, dirinya tidak menjabarkan secara rinci RW mana saja yang memiliki tingkat kerawanan tinggi akan DBD itu. Dia hanya memastikan, data tersebut akan diperbarui setiap pekannya.

Baca Lainnya : Dinkes DKI Jakarta: Waspadai Gejala DBD yang Tidak Terlihat

Lebih lanjut pihaknya mengungkapkan, yang menjadi tolak ukur angka kerawanan DBD bukan berdasarkan jumlah kasus yang terjadi, tapi menggunakan penghitungan IR yang diambil dari jumlah kasus per 100.000 populasi penduduk.

“Jadi yang saya bikin, ranking. Bukan berdasarkan jumlah kasus tapi Incidence Rate sehingga proporsional. Kalau nanti hanya absolut saja, Kalideres pasti tinggi. Karena jumlah penduduknya banyak. makanya kami proporsionalkan,” lanjut Widyastuti.

Untuk itu, pihaknya terus menerus mengingatkan seluruh lapisan masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan agar terbebas dari jentik nyamuk. Salah satunya bisa dilakukan lewat gerakan satu rumah satu kader jumantik, di samping menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air di lingkungan sendiri dan sekitar. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Upaya Outreach Sawit Indonesia Berkelanjutan di Slowakia

Peristiwa   16 Des 2019 - 09:20 WIB
Bagikan:          
Bagikan: