Pemanfaatan Pangan Lokal, Langkah Penanganan Stunting yang Cukup Potensial

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
04 Mar 2019   15:30

Komentar
Pemanfaatan Pangan Lokal, Langkah Penanganan Stunting yang Cukup Potensial

Ilustrasi (Foto : Doc/ Dispangan Pemprov Sumbar)

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menangani masalah stunting. Namun demikian, anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Damayanti R Syarif yang juga seorang Dokter spesialis anak konsultan nutrisi RSCM menilai, upaya yang penanganan stunting di Indonesia masih belum membawa perubahan yang berarti. Diakuinya, angka stunting masih tetap tertinggi, meski oleh pemerintah diklaim telah menurun.

Komposisi MPASI untuk program intervensi gizi pada bayi dan balita tidak sesuai kebutuhan bayi. (Foto: Istimewa)

Lebih lanjut Damayanti mengungkapkan, komposisi makanan pendamping air susu ibu (MPASI) untuk program intervensi gizi pada bayi dan balita tidak sesuai dengan kebutuhan bayi. 

Menurutnya, komposisi makanan yang dianjurkan lebih banyak untuk orang dewasa, seperti sayuran dan buah-buahan. Padahal, kunci utama penanganan stunting adalah kecukupan protein hewani.

Ia mengatakan, pemanfaatan anggaran penanggulangan stunting yang mencapai Rp50 triliun harus lebih diefektifkan. Pihaknya mengkritik kebijakan pemerintah yang membeli biskuit untuk melakukan intervensi gizi pada anak-anak di seluruh wilayah Indonesia.

“Kalau dana yang ada bisa dikelola dengan baik, penurunan penderita stunting bisa lebih signifikan,” ujarnya.

Menurut Damayanti, stunting disebabkan oleh dua hal, pertama asupan nutrisi yang tidak memadai (adekuat) dan kebutuhan gizi anak yang meningkat. Asupan tidak memadai ini kaitannya dengan makanan. Sementara kebutuhan meningkat terkait penyakit infeksi.

Yang kedua, bayi baru lahir kemungkinan 20 persen menderita stunting akibat kondisi tertentu, seperti prematur dan berat badan lahir rendah. Sementara 80 persen bayi lahir normal. Namun karena asupan makanannya tidak memadai serta sang bayi menderita penyakit tertentu, maka kebutuhan akan nutrisi tidak tercukupi. Kondisi seperti ini membuat bayi yang lahir normal akhirnya menjadi stunting.

Dirinya menekankan bahwa kurang tepat bila stunting didefinisikan sebagai kerdil. Lebih dari sekadar pendek tubuh, otak anak stunting rusak dan sulit diperbaiki.
“Pendek fisik masih ada kesempatan untuk menaikkannya di saat remaja. Yang mengkhawatirkan kan justru perkembangan otaknya yang terhambat. Begitu otak anak rusak akibat ketidakcukupan nutrisi sejak dalam kandungan, maka akan sulit diperbaiki,” tegasnya.

Dengan demikian dampak jangka panjang stunting bukan hanya bagi penderita dan keluarganya melainkan juga masa depan bangsa ini. Anak-anak stunting hidup dengan kualitas buruk, tidak cerdas, nilai akademis rendah, dan produktivitas kurang. Ini ancaman bagi Indonesia ketika mendapat bonus demografi yang puncaknya pada 2025-2035 mendatang.

Pada saatnya nanti jika tidak dicegah dengan optimal, Indonesia akan kelimpahan penduduk berusia kerja, tetapi sebagian besar dari mereka kurang produktif karena sakit-sakitan, dan akibatnya menjadi beban bagi negara.

Dampak lebih luasnya dikatakan Damayanti, kualitas SDM yang kurang menyebabkan Indonesia tertinggal dari negara lain dalam banyak hal. Misalnya dalam bidang matematika, Indonesia menduduki peringkat ke 64 dari 65 negara. Indonesia hanya berada satu tingkat di atas Peru, dan di bawah Singapura, Tiongkok, Korea, dan Jepang.

Menurutnya intervensi besar-besaran harus dilakukan, dimulai dari ibu hamil perlu memastikan asupan makanannya serta kandungan gizinya harus tercukupi.

Peran Pangan Lokal untuk Cegah Stunting

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan: