Pemanfaatan Pangan Lokal, Langkah Penanganan Stunting yang Cukup Potensial

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
04 Mar 2019   15:30

Komentar
Pemanfaatan Pangan Lokal, Langkah Penanganan Stunting yang Cukup Potensial

Ilustrasi (Foto : Doc/ Dispangan Pemprov Sumbar)

Belum lama ini, Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan, persoalan kesehatan masih menjadi pekerjaan besar yang harus dituntaskan sedini mungkin. Ia menunjuk angka stunting yang pada tahun 2014 masih mencapai angka 37 persen.

"Kesehatan ini basic sekali. Jangan sampai kita berbicara persaingan dengan negara lain tetapi kita memiliki stunting 37 persen,” kata Presiden Jokowi saat membuka Rapat Kerja Kesehatan Nasional Tahun 2019 di ICE Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (12/2) lalu.

Stunting dan obesitas anak masih menjadi masalah yang harus dihadapi bangsa ini. (Foto: Istimewa)

Sementara itu, Koordinator Riset Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rina Agustina belum lama ini mengatakan, Indonesia saat ini tengah menghadapi 2 masalah. Selain stunting, masalah terkait gizi lainnya adalah obesitas anak. 

“Di tahun 2019 kita masih menghadapi double burden yakni masalah stunting dan obesitas pada anak,” kata Rina Agustina di Jakarta.

Berdasarkan catatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018) Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya perbaikan status gizi buruk pada balita di Indonesia. Proporsi status gizi sangat pendek turun dari 37,2 persen (Riskesdas 2013) menjadi 30,8 persen (Riskesdas 2018). Demikian pula pada proporsi status gizi kurang, turun menjadi 17,7 persen (Riskesdas 2018) dari 19,6 persen (Riskesdas 2013).

Meski jumlahnya terus menurun, tapi penurunan yang tercatat dinilainya masih kurang signifikan. Pasalnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batas prevalensi 20 persen untuk gizi buruk. Padahal, menuntaskan kasus stunting merupakan salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) poin
kedua 'zero hunger atau nol kelaparan'. Diperkirakan ke-17 targer SDGs diselesaikan pada tahun 2030 mendatang.

Data Kementerian Kesehatan mencatat, sepanjang 2016-2017, 1 dari 5 ibu hamil mengalami malnutrisi. Sementara 7 dari 10 ibu hamil disebut kurang kalori dan protein.
Faktor lainnya penyebab stunting yaitu terjadinya infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran anak yang pendek, dan hipertensi. Salah satu faktor penting lainnya yakni rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk akses sanitasi dan air bersih.

Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan, Doddy Izwardy menyatakan, penurunan angka penderita stunting dari 37,2% pada 2013 menjadi 30,8% pada 2018 merupakan keberhasilan pemerintahan Jokowi-JK yang telah memasukan penanganan stunting dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2015.

Dikatakan Doddy, untuk mencegah terjadinya anak mengalami stunting adalah pentingnya pemahaman ibu terhadap 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HKP). Dirinya merinci, 1.000 HKP itu terdiri atas 270 hari janin di dalam kandungan ibu dan 730 hari atau dua tahun setelah bayi lahir.

Kementerian Kesehatan sendiri saat ini fokus untuk memberi perhatian kepada sekitar 4 juta sampai 5 juta ibu hamil setiap tahun agar bayi yang dilahirkan tidak mengalami stunting.

“Berbicara soal ibu hamil dan bayi, indikator terberatnya adalah anak yang dilahirkan mengalami stunting. Kalau bicara stunting di sini, bukan hanya pendek, tetapi menyangkut kecerdasan otak. Kalau otak gagal berkembang, anak yang tidak dapat bersaing mengakibatkan kemiskinan,” terang Doddy saat ditemui di Kementerian Kesehatan di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Upaya Penanganan Stunting Dinilai Belum Optimal

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan: