Terungkap, Ini Alasan Petani di Batam Babat Bayam Siap Panen di Kebunnya

TrubusNews
Astri Sofyanti
27 Feb 2019   18:35 WIB

Komentar
Terungkap, Ini Alasan Petani di Batam Babat Bayam Siap Panen di Kebunnya

Yusuf, petani bayam di Batam yang disebut-sebut membabat hasil panennya karena geram harga sayuran di wilayahnya anjlok. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Belum lama ini, beredar foto seorang petani yang membabat habis tanaman bayam di kebunnya. Dikabarkan, aksi petani itu dilakukan di wilayah Batam, Kepulauan Riau. Aksi itu sendiri disebut-sebut sebagai bentuk kekesalan petani itu karena anjloknya harga bayam di wilayahnya.

Tak lama setelah foto itu tersebar, Yusuf, petani yang ada di foto tersebut langsung menyanggahnya. Ia mengatakan, aksi itu dilakukan bukan untuk memprotes pemerintah yang dinilai lalai hingga menyebabkan harga sayuran di Batam anjlok.

Yusuf mengakui, harga sayuran di Batam anjlok karena melimpahnya ketersediaan sayur di wilayah lain seperti Kepulauan Bintan, sehingga harga sayuran di Batam menjadi anjlok. Padahal selama ini, harga sayuran seperti bayam hingga kangkung harganya cenderung stabil.

Baca Lainnya : Dengan 10 Jurus Ini, Petani Tak Akan Buang Sayur Hasil Panennya Lagi

Petani yang biasa menanam sayuran daun telah memperhitungkan harga ketika mereka memanen hasil keringatnya. Petani menghitung besaran biaya yang dikeluarkan sehingga jarang ditemui petani yang mau mengalami kerugian berulang atau beruntun. 

“Tidak benar itu. Bukan saya yang mengeluarkan pernyataan itu, tetapi media. Saya tidak pernah bermaksud mendemo pemerintah, namun lebih meminta pemerintah agar berperan dalam pengaturan pasokan sayuran yang masuk ke Batam," demikian kata Yusuf dalam siaran siaran pers yang diterima Trubus.id, Rabu (27/2).

Yusuf sendiri merupakan salah satu anggota Kelompok Tani Sumber Rejeki Batam. Saat aksi terjadi, dirinya tidak sempat memanen tanaman bayamnya tepat waktu dan lewat masa seharusnya.

Seharusnya tanaman bayam ia panen hari Selasa minggu lalu, namun karena tidak sempat, ia memanennya baru pada hari Minggu dengan kondisi tanaman sudah lewat masa panen.

“Memang kemarin ada teman yang mengambil foto saya ketika membabat tanaman bayam, saya tidak tahu bahwa foto tersebut digunakan untuk membuat berita, keesokan harinya banyak wartawan yang mendatangi saya," urainya.

Baca Lainnya : Pengojek Sayur di Kayu Aro Kerinci Minta Maaf Membuang ke Jalanan Sayuran Reject

Diakui Yusuf, biasanya bayam dipanen pada umur 21 hari setelah tanam. Apabila lewat dari waktu tersebut menyebabkan sayuran bayam sudah tidak layak dipanen karena batangnya sudah mengeras dan tidak laku di pasaran. Panen lahan seluas lima bidang ini dibabat dengan pertimbangan lebih murah dan praktis. 

“Bila dipanen dengan cara biasa, upah tenaga kerja lebih mahal dibanding harga jual bayam Rp1.200 per kg. Saya akan menggunakan hasil ini untuk bahan pupuk dan pakan ternak dan mempersilahkan teman petani mengambil bayam. Saya akan menggunakan lahan ini untuk komoditas lain,” ujar Yusuf menjelaskan.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun saat meninjau beberapa petani di Kecamatan Galang, Batam, berpesan agar petani mengatur kalender tanaman dengan baik. Jadi ketika panen tidak dalam waktu bersamaan untuk mendapatkan harga yang menguntungkan. 

"Saya juga berharap Dinas Pertanian mendampingi petani dalam menyusun kalender tanam," tutur Nurdin.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Riau, Ahmad Izhar mengatakan, pihaknya telah memberikan informasi harga kepada petani. Mereka juga mengajarkan petani untuk mengatur waktu tanamnya melalui kalender tanam dengan memperhatikan kebutuhan sayuran di Batam.

Baca Lainnya : Harga Komoditas Naik, Pemasok Sayur di Cianjur Gigit Jari

"Kondisi yang dialami Yusuf dikarenakan bayamnya sudah lewat masa panen sehingga dimanfaatkan olehnya untuk pakan ternak," ucap Izhar.

Kepala Sub Direktorat Sayuran Daun dan Jamu, Direktorat Jenderal Hortikuktura, Kementerian Pertanian, Indra Husni mengungkapkan, biasanya tanaman sayuran yang tidak dipanen atau sisa panen dan tanaman yang sudah tidak layak panen karena umur panen yang terlewat dapat dianggap sebagai gulma. 

"Sebaiknya petani menerapkan pola tanam bergilir dalam menggunakan lahan berdasarkan komoditas dengan pertimbangan ekonomi yang menguntungkan," terangnya.

Sementara Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Kementan, Moh Ismail Wahab meminta petani untuk lebih bijak. Usahakan jangan mau dijadikan bahan berita yang mengundang kontroversi dan dimanfaatkan oleh pihak lain untuk mengambil keuntungan. 

"Kasus ini memberi gambaran kepada kita bahwa petani sudah mempertimbangkan segala tindakannya baik dari sisi ekonomi maupun manfaat lain dan berusaha untuk menekan kerugian yang mungkin dialami," pungkasnya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Warga Mekarsari Antusias Dalam Memanfaatkan Wastafel Portabel

Peristiwa   01 April 2020 - 21:29 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: