Pengamat Ekonomi UGM Menilai, Tak Banyak Masyarakat yang Peduli Energi Bersih

TrubusNews
Astri Sofyanti
27 Feb 2019   16:30 WIB

Komentar
Pengamat Ekonomi UGM Menilai, Tak Banyak Masyarakat yang Peduli Energi Bersih

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Pengamat Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM), Fahmy Radhi mengatakan, pengalihan pola konsumsi energi oleh masyarakat tergantung dari dua aspek. Yang pertama ketersediaan dan yang kedua keterjangkauan.

Sementara itu, penggunaan energi berbasis migas atau listrik diakuinya selama dua aspek tersebut terpenuhi, akan menjadi lebih mudah.

Pihaknya juga mengungkapkan bahwa tak banyak masyarakat yang memikirkan atau bahkan mengetahui sumber energi yang digunakan sehari-hari apakah berasal dari batubara, migas, ataupun energi terbarukan (EBT).

Baca Lainnya : Tahan Laju BBM, Kementerian ESDM Dorong Energi Hijau Sawit

“Yang dipikirkan masyarakat (konsumen) selama ini kan energi yang digunakan harus tersedia dan terjangkau,” kata Fahmy melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (27/2).

Padahal ada sejumlah manfaat yang diperoleh masyatakat jika pengalihan pola konsumsi energi ini dilaksanakan. Manfaat langsung yang dirasakan tersebut menurutnya karena yang digunakan adalah energi listrik atau energi bersih.

Kondisi ini menurutnya memungkinkan, terlebih saat ini tingkat kesadaran masyarakat akan menjaga lingkungan mulai tinggi.

Baca Lainnya : Untuk Capai Target Energi Bersih, Potensi Laut Indonesia Menjanjikan

“Energi listrik akan menjadi pilihan misalnya mobil listrik, terlebih peralatan di dapur yaitu kompor listrik yang mulai banyak digunakan masyarakat,” ujarnya.

Dirinya meyakini bahwa kedepannya pengalihan pola konsumsi energi masyarakat ke listrik akan terjadi. Tapi itu semua menurutnya tergantung pada aspek ketersediaan dan keterjangkauan tadi.

Fahmy mencontohnya, ketika pemerintah memberikan subsidi untuk solar, tapi subsidi itu dialihkan ke mobil listrik, mata otomatis akan mengurangi subsidi ke solar. Selain itu, diakuinya, juga terjadi penghematan beban energi yang ditanggung APBN.

Baca Lainnya : RI dan Italia Kerja Sama Kembangkan Energi Panas Bumi

“Impor BBM akan jauh berkurang. Itu sebabnya pemerintah harus mendorong peralihan dari kendaraan yang menggunakan energi berbasis fuel kepada berbasis listrik, dan juga penggunaan kompor listrik, " ujarnya menambahkan.

Pada akhirnya, berbagai sumber daya alam yang dapat memberi kontribusi penguatan ekonomi Indonesia, sekaligus berarti meminimalisir berbagai hal, terutama pada pos-pos pengeluaran belanja negara yang memiliki fungsi substistusi yang bersumber dari dalam negeri.

“Kita harus melakukan bauran energi yang paling ekonomis untuk menghasilkan energi sehat yang lebih ramah lingkungan, baik dalam hal kapasitas, ketersediaan, dan juga harganya,” pungkasnya. [RN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: