Kota Medan Lokasi Transit Strategis Para Pelaku Perdagangan Satwa

TrubusNews
Reza Perdana | Followers 2
26 Feb 2019   21:30

Komentar
Kota Medan Lokasi Transit Strategis Para Pelaku Perdagangan Satwa

Gelar perkara pengungkapan kasus perdagangan satwa dilindungi di Mapolda Sumut, Selasa (26/2). (Foto : Trubus.id/ Reza Perdana)

Trubus.id -- Maraknya ditemukan kasus perdagangan satwa langka dilindungi di Kota Medan, menandakan bahwa Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara ini masih menjadi lokasi lintasan pelaku perdagangan satwa.

“Dugaan kami, dari Kota Medan bisa langsung transit ke negara lain,” kata Direktur Ditkrimsus Polda Sumut, Kombes Pol Ronny Santama, saat memaparkan pengungkapan kasus penjualan belasan burung langka dilindungi di Mapolda Sumut, Selasa (26/2).

Baca Lainnya : Polda Sumut Ungkap Sindikat Perdagangan Satwa Dilindungi, 16 Burung Langka Disita

Rony menjelaskan, penangkapan satwa langka dilindungi tersebut dilakukan personel Subdit IV Tipiter Ditreskrimsus Polda Sumut pada Rabu (20/2) lalu. Pengungkapan berawal dari informasi masyarakat yang menyebut adanya perdagangan satwa langka jenis burung yang akan dijual di kawasan Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Medan Deli.

Dari pengungkapan tersebut, petugas berhasil menyita 5 ekor burung kakaktua raja, 5 ekor burung kesturi raja, 1 burung rangkong papan, 1 burung kakaktua maluku, 1 burung kakaktua jambul kuning dan 3 ekor juvenil, burung kasuari klambir ganda. Semua burung ini berstatus dilindungi undang-undang.

“Belasan burung langka ini dipelihara oleh dua orang tersangka yakni Robby (37) dan Adil Aulia (28). Keduanya warga Jalan KL Yos Sudarso, Kelurahan Mabar Lingkungan I, Medan Deli,” jelasnya.

Baca Lainnya : Pelaku Perdagangan Kulit Harimau Sumatera Diringkus Jajaran Polda Sumut

Diterangkan Rony, untuk tersangka Robby merupakan pemain lama dan memang sudah lama dicari. Petugas juga masih mengembangkan kasus penjualan burung langka tersebut. Sebab, dari belasan burung yang disita hanya satu yang berasal dari Sumut, yakni burung rangkong papan.

“Robby masih kita kejar. Mereka (pelaku) menjual satwa langka tersebut melalui media sosial, bahkan ada juga yang dijual dengan berlindung di balik pedagangan burung yang biasa. Kalau dikonversi di pasaran, total burung langka yang disita ini mencapai Rp 500 juta,” terangnya. 

Dalam kasus ini, pelaku dijerat pasal 40 ayat (2) UU no 5 tahu 1990 tentang konsevasi sumber daya alam hayati dan ekosostimnya. Peraturan berbuniy, 'Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta'. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: