Mengganas, 825 Warga NTB Jadi Korban Gigitan Anjing Gila

TrubusNews
Astri Sofyanti
25 Feb 2019   10:28 WIB

Komentar
Mengganas, 825 Warga  NTB Jadi Korban Gigitan Anjing Gila

Anjing, ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Sejak awal tahun 2019, ditemukan banyak kasus rabies di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Berdasarkan data per 24 Februari 2019, sebanyak 825 warga di Kabupaten Dompu dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) dilaporkan digigit anjing gila. Akibat kondisi ini, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) di NTB.

Dinas Peternakan dan Kesehatan NTB melaporkan, enam orang meninggal dunia karena lambatnya penanganan medis usai digigit anjing gila.

Saat digigit anjing gila, virus yang berasal dari gigitan akan masuk ke dalam tubuh manusia melalui air liur anjing. Virus merebak di dalam otot di bagian yang digigit, virus merebak dari saraf periferi ke saraf utama lalu menjalar ke saraf tunjang, yang akan menyebabkan radang otak. Dan yang paling fatal, virus mulai merebak ke seluruh tubuh untuk menyerang organ-organ.

“Ini data per 24 Februari 2019. Kabupaten Dompu menjadi wilayah paling banyak warganya yang digigit anjing sebanyak 735 warga,” urai Kepala Disnakeswan NTB Budi Septiani, di Mataram, Senin (25/2).

Diakuinya, dari 735 warga 32 diantaranya positif rabies. Lebih lanjut diakuinya 33 warga di Kabupaten Bima juga menjadi korban gigitan anjing, tapi sampai hari ini belum ada laporan warga Bima yang posotif rabies. Sementara di Kabupaten Sumbawa 27 warga dinyatakan positif rabies.

"Di Pulau Lombok sampai saat ini belum ada korban yang dinyatakan positif terkena rabies. Tapi kami meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan agar tidak bertambah terus jumlah korban gigitan anjing," tegas Budi.

Diakui Budi, pihaknya bersama Dinas Peternakan kabupaten/kota se-Pulau Sumbawa sudah berkoordinasi guna pengendalian rabies.

“Berbagai upaya akan kita dilakukan, mulai dari pemberian vaksinasi kepada hewan penular rabies (HPR) baik hewan liar ataupun hewan peliharaan,” ungkap Budi menambahkan.

Sebelumnya, dalam rangka mengendalikan penyakit rabies di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, Direkur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Syamsul Ma’arif mengungkapkan bahwa Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) telah mengirimkan bantuan vaksin rabies dan melakukan kegiatan Komunikasi, Informasi, serta Edukasi (KIE).

“Untuk mencegah meluasnya kasus rabies di NTB, Ditjen PKH Kementan telah mengirimkan vaksin sebanyak 14 ribu dosis (9 ribu ke Dompu, 2 ribu ke Bima dan 3 ribu ke Sumbawa) untuk mengebalkan hewan di kabupaten tersebut”, ujar Syamsul beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Syamsul mengatakan, perlu dilakukan pengendalian populasi anjing. Menurutnya, dalam situasi mendesak pengendalian populasi HPR (Hewan yang dapat menularkan rabies) dapat dilakukan dengan cara yang baik dan memperhatikan aspek kesejahteran hewan.

“Pengendalian populasi HPR dilakukan atas perintah dari pemerintah setempat dengan memperhatikan ketersediaan sarana/prasarana yang memadai, keselamatan/kesehatan personil, melakukan identifikasi HPR, dan melakukan manajemen penanganan bangkai dengan baik”, ujarnya.

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

KKP Hentikan Sementara SPWP Ekspor Benih Bening Lobster

Peristiwa   26 Nov 2020 - 17:29 WIB
Bagikan:          
Bagikan: