Bina Swadaya, Lembaga Kewirausahaan Sosial Zaman Now

TrubusNews
Karmin Winarta
23 Feb 2019   12:00 WIB

Komentar
Bina Swadaya, Lembaga Kewirausahaan Sosial Zaman Now

Bambang Ismawan, Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Sebagai Wirausaha Sosial, Bina Swadaya adalah lembaga yang bertujuan melakukan pembangunan sosial berkelanjutan dengan strategi kewirausahaan. Pembangunan Sosial adalah berbagai upaya menanggulangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja produktif yang dilaksanakan secara gotong royong (social integration).

Pembangunan Berkelanjutan adalah  pembangunan yang mengupayakan kelestarian lingkungan hidup dan sekaligus dimaknai sebagai kemandirian finansial. Sedang Kewirausahaan adalah strategi yang ditetapkan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan Lembaga.  

Strategi ini diwujudkan dengan pembentukan badan usaha (PT dan Koperasi) yang didesain sebagai badan usaha yang berwatak wirausaha sosial pula.  Pada umumnya, pembangunan sosial dan pembangunan berkelanjutan dilaksanakan dengan pendekatan filantropis, yaitu dengan membangun hubungan kerjasama dengan lembaga-lembaga donor.  

Untuk menghayati spirit Kewirausahaan Sosial, berbagai inovasi perlu dilakukan seturut perkembangan EPOLEKSOSBUD HANKAMNAS (ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan nasional).

Pemahaman kita tentang kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) tentu berbeda dengan pengertian tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).   

Bina Swadaya pada zaman now keberadaannya dirumuskan bersama dengan generasi muda, yaitu ketika mencapai usia 50 tahun (2017) suatu keinginan untuk berlanjut sedikitnya berusia 50 tahun lagi. Dalam rangka itu telah ditetapkan dan dimulai pada 2018 tranformasi kelembagaan dengan membentuk holding company Trubus Swadaya Utama.

Dan dalam pada itu telah juga ditetapkan Piagam Bina Swadaya yang memuat spiritualitas dasar, visi-misi, susunan kelembagaan, serta pengelolaan kegiatan yang menjadi pedoman  arah bagi perjalanan peziarahan Bina Swadaya lebih lanjut disebut Trubus Bina Swadaya (TBS) Grup.

Ungkapan Kewirausahaan Sosial (Social Entrepreneurship) mulai dibicarakan masyakat sejak 2007, yaitu setelah Bina Swadaya sebagai yang pertama di Indonesia menerima Social Entrepreneurship of the Year Award (2006) dari Ernest & Young Indonesia dan The Schwab Foundation di Swiss.

Ihwal Kewirausahaan Sosial ini cepat berkembang dan menjiwai semangat kaum muda yang  terpanggil untuk ikut menanggulangi kemiskinan yang marak  dan menjembatani ketimpangan yang semakin melebar. Semakin banyak kalangan muda yang sukses berkarier di perusahan-perusahaan besar dan prestisius didalam dan diluar negeri memutuskan berhenti demi memulai Kewirausahaan Sosial yang penuh risiko, yang umumnya mereka mulai dari nol, namun dengan keberanian luar biasa. Banyak diantara mereka yang berkunjung ke Bina Swadaya menyerap inspirasi dan mendapatkan informasi seturut kepentingan mereka. 

Sementara itu, para sahabat di Jepang pada awal tahun ini mendirikan Asian Social Entrepreneurship College (ASEC) di Tokyo, mereka merekrut kalangan muda Jepang yang ingin bekerja di negara-negara Asia, dan sebagai langkah awal mereka ditugaskan magang seminggu di Bina Swadaya untuk mencecap praksis Kewirausahaan Sosial yang telah dijalankan Bina Swadaya selama puluhan tahun.

British Council (Jakarta) bekerjasama  dengan United Nations Economic And Social Commission for Asia and The Pacific (UNESCAP) mengadakan studi dengan tema: Membangun Ekonomi yang Inklusif dan Kreatif, Profil Usaha Sosial di Indonesia melaporkan hasilnya pada 17 Desember 2018: 
•    Banyak usaha sosial berupaya mendorong inklusifitas dan penyelesaian isu-isu ketimpangan sosial, khususnya dengan menggunakan model berbasis komunitas dan memberikan lebih banyak kesempatan bagi perempuan.
•    Usaha Sosial tidak hanya menjangkau kota-kota besar saja, sehingga menciptakan lapangan kerja di seluruh Indonesia dan mendukung pemerataan ekonomi.
•    Wirausaha Sosial Indonesia banyak dipimpin oleh kaum muda, menunjukan komitmen dan motivasi yang tinggi untuk menyelesaikan masalah sosial di lingkungan mereka.
•    Tiga sektor dimana usaha sosial paling banyak beroperasi adalah industri kreatif, pertanian dan perikanan, serta pendidikan.

Prof. Dr. Bambang Brojonegoro (Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Nasional) yang hadir pada acara peluncuran laporan studi, mengapresiasi  kemajuan-kemajuan yang dicapai usaha sosial dalam 5 tahun terakhir, serta merangkum sambutannya dengan menyatakan: "Pemerintah Indonesia mengakui kontribusi kewirausahaan sosial dalam menyediakan solusi terhadap masalah di masyarakat. Untuk mencapai obyektif dan agenda pembangunan nasional, pemerintah ingin menjadi mitra aktif bagi wirausaha Sosial dan berkomitmen untuk terus mengembangkan dan menumbahkan ekosistem wirausaha sosial".

Bina Swadaya merasa semakin mantap.  Mantap menatap pertanyaan dari novel Ernest Hemingway, For Whom The Bell Tolls? (buat siapa genta proklamasi berbunyi?).  Jawab Bung Karno: “buat kaum Marhaen.”  Menurut Bung Hatta dan Prof. Mubyarto: “sektor perekenomian rakyat” yaitu sektor ekonomi yang menghidupi sebagian besar Rakyat Indonesia.  

Itulah para pengusaha mikro yang menurut Kementerian Koperasi dan UKM berjumlah 62.106.900 unit usaha (2017).  Menurut Bank Dunia, mereka adalah “economically active poor” dan barangkali merekalah yang dimaksud oleh BBC Survey on Enterpreneurship (2011) yang menyebut Indonesia paling hebat kewirausahaannya di dunia, diikuti Amerika Serikat, Canada, India dan Australia.

Sektor perekonomian rakyat, yaitu para pengusaha mikro, “the economically active poor” inilah yang secara jelas menjadi “target audience” Bina Swadaya bersama para pemangku kepentingan meningkatkan keberdayaannya.

Bambang Ismawan

Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya

 


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: