Kopi Tetap Jadi Primadona di Sumut Meski Luas Lahannya Kalah Dibanding Kelapa Sawit

TrubusNews
Karmin Winarta
23 Feb 2019   06:20 WIB

Komentar
Kopi Tetap Jadi Primadona di Sumut Meski Luas Lahannya Kalah Dibanding Kelapa Sawit

Petani kopi di Sumut (Foto : Reza Perdana)

Trubus.id -- Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara, Herawaty mengatakan, saat ini luas lahan kelapa sawit 1,2 juta hektare, sedangkan kopi hanya sekitar 80.000-an hektare.

"Meski begitu, trennya menunjukkan gambaran yang positif. Kopi tetap menjadi primadona," kata Herawaty, Jumat (22/2) malam..

Dijelaskan Herawaty, lahan kopi memang jauh lebih kecil dibandingkan dengan kelapa sawit, namun tetap sangat potensial. Sebab, kecilnya lahan karena kopi hanya bagus ditanam di dataran tinggi, minimal 800 meter di atas permukaan laut. 

"Nah, kelebihannya, kopi Sumut memiliki banyak single origin bervariasi. Di tiap kabupaten punya spesifikasi rasa berbeda-beda, sehingga menjadi peluang untuk dikembangkan dari hulu sampai ke hilir," jelasnya. 

Herawaty mengungkapkan, sebagian kopi di Sumut sudah memiliki Sertifikat Indikasi Geografis (SIG) seperti di Simalungun, Samosir, Lintong, Karo, Samosir, Sipirok, dan Mandailing Natal (Madina).

Baca Lainnya: Peringati HPSN 2019, Warga Medan Belawan Kutip Sampah untuk Dijadikan Rupiah

"Untuk saat, ini yang sedang beproses mendapatkan SIG, Dairi," ungkapnya.

Menurut Herawaty, keberhasilan Dairi mendapatkan SIG sangat tergantung pada komitmen pemerintah kabupaten. Pihaknya mengimbau kepasa Pemkab Dairi agar menginisiasi pembentukan Masyarakat Pecinta Indikasi Geografis (MPIG). 

"Nantinya, MPIG sebagai wadah mengumpulkan anggotanya, sebagai bagian dari proses untuk perolehan IG," ucapnya. 

Diterangkannya, tahun ini ada 1.100 hektare tanaman kopi yang diremajakan. Program peremajaan didukung dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ini dilaksanakan di Karo (100 ha), Madina (100 ha) dan Humbang Hasundutan (800 ha). 

"Angka tersebut berdasarkan dari pengajuan pemerintah kabupaten yang mengirimkan e-proposal secara langsung ke pusat," ujarnya.

Herawaty menuturkan, posisi Dinas Perkebunan Sumut dalam hal ini memverifikasi kesesuaian dan pencadangan lahan dengan komoditasnya. Pemerintah kabupaten langsung ke pusat mengirimkan e-proposalnya. 

"Untuk kabupaten lain yang mau ada peremajaan, disarankan sebaiknya melakukan hal yang sama. Tidak hanya peremajaan, tahun ini juga ada perluasan lahan kopi di Tapanuli Utara dan Toba Samosir. Masing-masing 150 hektare," tuturnya. 

Dengan adanya peremajaan, perluasan lahan, serta beberapa kabupaten sudah memiliki SIG, dan juga adanya kebun benih sumber kopi di Tobasa, Taput dan Humbahas seluas 3 hektare, maka produksi dan kualitas kopi Sumut juga meningkat lebih baik lagi.

Baca Lainnya: Tukar dengan Kebun Binatang Ragunan, Medan Zoo Kini Miliki Satwa Baru

Data statistik perkebunan tahun 2017 menunjukkan, detail lahan perkebunan kelapa sawit seluas 1.256.807,99 hektare dengan produksi tandan buah segar (tbs) 19.513.889,84 ton. Terdiri dari perkebunan rakyat 429.261 hektare dengan produksi (tbs) 6.039.591,22 ton.

Sementara PTPN seluas 321.663,85 dengan produksi (tbs) 5.224.551,57 ton. Perusahaan swasta nasional seluas 349.258,61 hektare dengan produksi (tbs) 5.521.324,45 ton dan perusahaan swasta asing seluas 156.624,23 hektare dengan produksi (tbs) 2.728.422,6 ton. 

Sedangkan perkebunan rakyat untuk kopi Arabika di Sumut seluas 70.199,92 hektare dengan produksi 55.155,09 ton. Berbeda dari kopi Arabika, kopi robusta ditanam oleh rakyat dan perkebunan besar swasta nasional (PBSN). 

Dari data statistik tersebut tercatat, kopi robusta seluas 18.942,17 hektare dengan produksi 8.484,72 ton. Ditambah dengan pertanaman oleh kebun milik PBSN seluas 1.098,96 hektare dengan produksi 904,67. Jika ditotal, luas kebun robusta seluas 20.041,13 hektare dengan produksi 9.389,3 ton.

Dari data yang sama, kopi robusta ditanam di 15 kabupaten dengan rincian, 1.537,15 hektare tanaman belum menghasilkan (TBM), 10.828,95 hektare tanaman menghasilkan (TM), dan 6.576,07 hektare tanaman tua menghasilkan (TTM). Kopi robusta ini dibudidayakan oleh 21.799 kepala keluarga (KK). 

Sementara itu, kopi arabika ditanam di 12 kabupaten dengan rincian 14.704,22 hektare (TBM), 51.195,84 hektare (TM) dan 4.299,86 hektare (TTM). Kopi Arabika dibudidayakan oleh 111.487 kepala keluarga (KK).  

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: