Penyelundup Burung langka dan Opsetan ke Malaysia Kembali Ditangkap

TrubusNews
Binsar Marulitua
22 Feb 2019   09:30 WIB

Komentar
Penyelundup Burung langka dan Opsetan ke Malaysia Kembali Ditangkap

kakak tua, ilustrasi (Foto : Pixabay)

Trubus.id -- Sebanyak 13 ekor kakaktua hidup, 11 opsetan burung cenderawasih dan 1 ekor monyet emas disita lewat razia satwa dilindungi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Operasi pengamanan peredaran ilegal satwa dilindungi akan terus dikembangkan untu  untuk membongkar perdagangan satwa internasional.  

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Sustyo Iriyono, menyatakan bahwa keberhasilan ini selain hasil pengembangan kasus juga merupakan hasil dari operasi intelijen yang kuat dari Ditjen Gakkum LHK, Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dan Kepolisian. Selanjutnya, dari hasil investigasi Ditjen Gakkum LHK perdagangan ini juga melibatkan pelaku di Malaysia, sehingga ini merupakan jaringan internasional. 

"Kami telah mengembangkan kerjasama dengan INTERPOL dan baru minggu kemarin Tim kami ke Malaysia untuk berkoordinasi dan berkerjasama dengan Otoritas Malaysia terkait kasus­-kasus penyelundupan satwa liar, kami akan ungkap semua pelaku dan jaringannya”, tutur Sustyo dalam keterangan tertulis, Kamis (21/2) lalu. 

Sustyo menjelaskan Hasil pengembangan diketahui bahwa pelaku di Jambi dengan inisial E, menjual satwa ke jaringan pelaku di Batam dan Malaysia. 

Baca Lainnya: Lagi, Petugas Bandara Soekarno-Hatta Menggagalkan Penyelundupan Hewan Dilindungi

Pelaksanaan operasi diawali dengan penangkapan seseorang berinisial B yang biasa menjemput satwa yang diperdagangkan oleh E (pelaku Jambi) di Pelabuhan Rakyat Pungur. Hasil pengumpulan bahan keterangan terhadap B, menyebutkan bahwa pelaku bertugas untuk menjemput satwa dan diperintahkan oleh bosnya yaitu T. 

Berdasarkan pengembangan telah diperiksa/dimintai keterangan 4 orang dan selanjutnya pelaku di Jambi juga biasa menjual satwa ke W yang berada di Batam.

Di kediaman W ditemukan 30 ekor Burung hidup, yang terdiri dari 4 ekor burung Kakaktua Jambu Kuning, 6 ekor Kakatua Jambul Jingga, 5 ekor Kakatua Jambul Putih, 4 ekor Bayan, 10 ekor burung Nuri Papua dan 1 ekor Kakaktua Raja di halaman rumahnya. 

Baca Lainnya: Terungkap, Hewan Langka Kerap jadi Santapan Mewah Saat Imlek

Tim langsung mengamankan pemilik burung W ke Mapolsek Batu Ampat untuk dimintai keterangan dan terhadap 30 ekor burung dibawa ke Kantor Seksi Wilayah Batam Balai Besar KSDA Riau untuk dilakukan pengaman sementara.

Kepala Balai Gakkum LHK Wilayah Sumatera, Eduard Hutapea, menambahkan bahwa untuk jaringan T yang merupakan pengembangan dari kasus Jambi akan dilanjutkan penanganannya oleh Polres Tanjung Jabung Timur, sedangkan untuk jaringan W akan dilakukan penyelidikan dan penyidikan oleh PPNS KLHK dan akan diusut tuntas sampai ke jaringan pelaku lainnya. 

Direktur Jenderal Penegakan Hukum LHK, Rasio Ridho Sani, menegaskan bahwa upaya ini merupakan komitmen Kementerian LHK dalam aksi penyelamatan SDA termasuk Sumber Daya Hayati. Lebih lanjut Rasio Ridho Sani menyampaikan bahwa kejahatan perdagangan ilegal satwa dilindungi merupakan kejahatan yang luar biasa karena selain merugikan negara dari kehilangan potensi Sumber Daya Hayati, kejahatan tersebut melibatkan jaringan internasional.

“Kejahatan ini sangat luar biasa, seperti kejahatan Narkoba dengan sel-sel jaringan yang terputus-putus, untuk itu kami terus menguatkan intelijen serta kerjasama dengan para pihak baik di level nasional maupun internasional untuk mengungkap kejahatan ini”, kata Rasio Ridho Sani.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan: