Suplai Magma Gunung Merapi ke Permukaan Terus Meningkat

TrubusNews
Astri Sofyanti
21 Feb 2019   19:30 WIB

Komentar
Suplai Magma Gunung Merapi ke Permukaan Terus Meningkat

Guguran lava dari puncak gunung merapi terekam cctv. (Foto : Doc/ BPPTKG)

Trubus.id -- Sampai, Kamis 21 Februari 2019, Gunung Merapi di Jawa Tengah terus memperlihatkan aktivitas vulkaniknya. Aktivitas gunung itu terus meningkat sejak terjadinya awan panas guguran pada 29 Januari 2019 lalu. Saat itu terjadi tiga kali guguran lava dengan jarak luncur maksimum 1.400 meter.

Sementara pada 7 Februari 2019 lalu, kembali terjadi satu kali guguran awan panas dengan jarak luncur 2.000 meter. Guguran awan panas terjadi kembali pada 11 Februari 2019 sebanyak satu kali dengan jarak luncur 400 meter.

Sementara itu, pada 18 Februari 2019, guguran lava sebanyak tujuh kali menyembur dengan jarak luncur maksimum 1.000 meter. Volume kubah lava terhitung sebesar 461.000 meter kubik.

Baca Lainnya : Bagi Warga Lereng Merapi, Lahar Hujan Lebih Menakutkan Dibanding Guguran Lava

Meski begitu, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) relatif tetap stabil hingga saat ini. Terlebih BPPTKG melaporkan, sampai saat ini status Gunung Merapi masih berada di level II (waspada).

Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan, aktivitas merapi kini mulai masuki fase pembentukan guguran lava dan awan panas.

"Material ekstrusi lava sebagian besar langsung meluncur membentuk guguran lava atau awan panas guguran," kata Hanik di Yogyakarta, Kamis (21/2).

Sementara itu, dirinya menguraikan, aktivitas kegempaan sebulan terakhir, tercatat sebanyak 14 gempa vulkanik dangkal, 39 gempa fase banyak, 34 gempa frekuensi rendah, 81 gempa hembusan, dan 1.216 kali gempa guguran.

Jumlah gempa guguran selam satu bulan terakhir itu tentu saja bukan angka yang sedikit. Hanik membenarkan, secara keseluruhan memang terjadi peningkatan dibandingkan periode sebelumnya.

Baca Lainnya : Selain Muntahkan Lava Pijar, Merapi juga Alami 16 Gempa Guguran

"Hal ini menandakan kalau suplai magma ke permukaan masih berlangsung dan cenderung meningkat," ujarnya.

Meski begitu, ia menambahkan, jarak luncur guguran lava dan awan panas saat ini maksimum 2.000 meter dan masih berpotensi terjadi kurang dari 3.000 meter. Dengan kata lain, aktivitas tersebut belum mengancam keselamatan penduduk sekitar.

Sementara itu, terkait kabar yang menyebut adanya retakan di dinding kawah sebelah barat, Kasi Gunung Merapi BPPTKG, Agus Budi Santoso menyatakan, pemantauan morfologi sudah dilakukan ke bagian kawah.

"Sejauh ini, dari analisis morfologi yang kita lakukan tidak teramati (laporan) yang dimaksud," terang Budi.

Baca Lainnya : Sehari Dua Kali Luncurkan Guguran Lava, Merapi Masih Waspada 

Meski demikian, pihaknya mengatakan, BPPTKG akan melakukan cek dan kroscek terhadap laporan tersebut. Sebab, harus dipastikan pula laporan yang datang memang merupakan laporan benar atau sekadar isu.

Untuk itu, BPPTKG tetap merekomendasikan masyarakat, khususnya warga yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III untuk tetap melakukan aktivitas seperti biasa.

Namun mereka juga harus selalu memperbarui informasi gunungapi dari dan arahan dari petugas serta kepala daerah setempat. Selain itu, BPPTKG juga telah mengosongkan radius tiga kilometer dari puncak dari segala aktivitas warga. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: