Gempa dan Tsunami Paling Banyak Makan Korban, Mitigasi Harus Dikuatkan

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
21 Feb 2019   15:30

Komentar
Gempa dan Tsunami Paling Banyak Makan Korban, Mitigasi Harus Dikuatkan

Kepala BNPB, Doni Monardo saat membuka konferensi pers dan pembekalan kebencanaan di Graha BNPB, Kamis (21/2). (Foto : Trubus.id/ Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Wilayah Indonesia yang berada di cincin api dan juga patahan lempeng mengakibatkan bencana alam sering melanda negeri ini. Untuk itu, Kepala Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo mengungkapkan, seluruh masyarakat harus paham benar dengan kondisi ini.

Doni melanjutkan, seluruh masyarakat, khususnya yang berada atau tinggal di wilayah yang berisiko tinggi terjadi bencana harus memahami betul apa yang harus dilakukan jika bencana itu sewaktu-waktu terjadi. Mitigasi bencana yang tepat diharapkan bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat peristiwa tersebut.

Baca Lainnya : Jonan: Jangan Ada Ego Institusi dalam Penanganan dan Mitigasi Bencana

Ia menuturkan, saat ini bencana alam yang paling banyak memakan korban jiwa adalah gempa bumi dan tsunami. Mitigasi bencana untuk menghadapi kedua ancaman itu seharusnya lebih dikuasai lagi.

"Ancaman paling besar itu karena pertama gempa di susul tsunami dan tanah longsor," kata Doni saat membuka konferensi pers dan pembekalan kebencanaan di Graha BNPB, Kamis (21/2).

Lebih lanjut pihaknya mengungkapkan, sampai saat ini belum ada pakar mana pun yang menemukan tanggal, waktu dan bulan yang bisa memprediksi datangnya gempa bumi.

Baca Lainnya : Gandeng Ulama, BMKG Berharap Penyebarluasan Antisipasi dan Mitigasi Bencana Dapat Efektif 

Untuk itu, Doni meminta seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang menghadapi bencana serta mitigasi secara mandiri.

"Kalau ada gempa berkekuatan besar masyarakat harus sigap dan langsung bergegas menyelamatkan diri. Sementara jika gempa besar terjadi di wilayah yang berisiko terjadi tsunami jangan menunggu alat peringatan dini berbunyi tapi tiga detik setelah guncangan gempa harus segera berlari untuk menyelamatkan diri," terang Doni. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: