Bersihkan Lahan dengan Cara Dibakar, Seorang Petani di Bengkalis Ditangkap Polisi

TrubusNews
Syahroni
18 Feb 2019   22:30 WIB

Komentar
Bersihkan Lahan dengan Cara Dibakar, Seorang Petani di Bengkalis Ditangkap Polisi

Metode membakar lahan sehingga menyebabkan karhutla di Riau tengah jadi perhatian. (Foto : Trubus.id/ M Syukur)

Trubus.id -- Petaka menimpa seorang petani di Desa Bangun Baru, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Petani berinisial SP itu terpaksa berurusan dengan hukum lantaran upayanya membersihkan lahan menyebabkan kebakaran.

Akibat ulahnya, setengah hektar lahan di Desa Bangun Baru, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis ludes terbakar. Racun pembersih lahan, parang, tanah bekas terbakar hingga mancis dijadikan sebagai barang bukti atas perbuatannya itu.

Saat ini, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Bengkalis memang menjadi perhatian. Pasalnya dalam beberapa hari terakhir sudah 200 hektare lahan di sana dan menambah total lahan jadi abu di kabupaten itu, yaitu 626 hektare.

Baca Lainnya : 841,71 Ha Lahan di Riau Ludes Terbakar, Bengkalis Penyumbang Terbanyak

Menurut Kabid Humas Polda Riau, Komisaris Besar Sunarto, SP pada 7 Februari 2019 berniat menanam bibit sawit lalu membersihkan lahan dengan racun. Lalu dia menebas dan menumpuknya untuk dibakar.

Apa yang dilakukan SP ini membuatnya repot sendiri. Tumpukan kayu dan daun kering dibakarnya menyebar hingga melumat setengah hektare lahan berkontur gambut. Berhari-hari dia memadamkannya dibantu petani lain.

"Api itu sendiri baru bisa diatasi pada 13 Februari 2019, pemadaman dilakukannya secara manual," ucap Sunarto.

Kebakaran ini terpantau personel Polsek setempat. Polisi lalu mendatangi lahan dan melakukan olah tempat kejadian perkara, di mana saat itu SP berada di lokasi dan mengakui telah membakarnya dengan sengaja.

Baca Lainnya : Sejak Awal 2019, Sudah 267,5 Hektare Lahan di Riau Ludes Terbakar

SP dibawa ke Mapolsek untuk penyelidikan lebih lanjut. Penyidik lalu memeriksa sejumlah saksi dan melakukan gelar dengan memakai sejumlah peraturan dan perundangan untuk menjerat pelaku.

"Kemudian pada 15 Februari 2019 pelaku SP ditetapkan sebagai tersangka karena membuka kebun dengan cara membakar," sebut Sunarto.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat  dengan 69 ayat (1) huruf h juncto Pasal 108 Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan/atau Pasal 56 ayat (1) juncto Pasal 108 UU Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan.

"Pasal itu berbunyi, setiap pelaku usaha perkebunan dilarang membuka dan/atau mengolah lahan dengan cara membakar," tegas Sunarto. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan: