Tradisi Para Raja Jawa Blusukan ke Hutan Belantara

TrubusNews
Heri Priyatmoko | Followers 0
16 Feb 2019   11:00

Komentar
Tradisi Para Raja Jawa Blusukan ke Hutan Belantara

Heri Priyatmoko (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Trubus.id (8/2) menurunkan berita berkepala “Blusukan ke Hutan Cianjur, Jokowi Kembali Tebar SK Izin Perhutanan Sosial”. Lelaki kerempeng ini kemarin menginjakkan kaki di Wana Lestari Wisata Pokland, Kecamatan Haurwangi. Alumnus Fakultas Kehutanan UGM itu bersemuka dengan penerima SK pemanfaatan hutan sosial untuk rakyat. Berpayung daun rindang, “penguasa” Indonesia memberi titah di hadapan “kawula” untuk memanfaatkan sebaik mungkin program hutan sosial. 

Peristiwa ini menyeret ingatan historis kebiasaan raja Jawa blusukan ke hutan atawa alas untuk berburu. Di masa lampau, tradisi berburu dan menyambangi kawasan hijau menjadi bagian dari olahraga dan hiburan bagi keluarga aristokrat. Dari kitab Nagarakertagama gubahan empu terkemuka Prapanca yang disusun tahun 1365, termahtub kabar baginda Hayam Wuruk beberapa kali melakoni perburuan ke alas. 

Berita lawas lainnya perihal perburuan bisa disimak dari kesaksian duta VOC bernama E. Rijkloff van Goens. Utusan kumpeni bertandang ke ibukota Mataram abad XVII. Tepatnya tahun 1652, ia menguntit perburuan yang digelar Susuhunan Amangkurat I di sekitar muara sungai Opak, dekat pantai selatan Yogyakarta.

Dengan tajam dia melukiskan tempat Krapyak sebagai: “...padang perburuan yang luasnya tak terkira dan dikelilingi pagar dari balok kayu jati. Di dalamnya disesaki ribuan banteng, kuda, kerbau serta hewan lainnya dimana orang dapat memburu mereka tanpa takut diterkam harimau atau digigit ular”. 

Berabad silam sebelum Kandang Menjangan dipakai markas militer, raja Amangkurat II (1677) sampai Paku Buwana II (1726) di Kartasura telah menggunakannya untuk menaruh rusa. Mengamini catatan AS Widada (1976), terkuak petinggi Keraton Kartasura sengaja membikin dua tempat untuk menaruh fauna sebagai wahana hiburan kelompok sosial cabang atas itu.

Kandang Menjangan digunakan khusus hewan rusa, sedangkan Krapyak diperuntukkan aneka satwa seperti banteng, kerbau liar, babi liar, dan kuda liar. Ukuran kedua lokasi ini sama-sama wiyar (luas). Saking jembarnya, kalau Sinuwun tidak berhasrat menjelajahi hutan, cukup memilih aktivitas perburuan di Krapyak. Yang terpenting, hobi berburu tetap tersalurkan.

Sunan dan penghuni istana supaya aman dari gangguan binatang buas dan mencegah rusa mbedal (lari) kembali ke alas, barisan abdi dalem diperintahkan memagari keliling tempat itu dengan balok-balok dari kayu jati. Ribuan rusa dibiarkan pihak kerajaan beranak pinak di situ.

Terselip misi, agar aksi berburu tetap berkesinambungan alias tidak kehabisan mangsa. Ringkasnya, di sini ada upaya pembunuhan, sekaligus mencuatkan tindakan regenerasi menjangan. Fakta keberadaan Kandang Menjangan dan Krapyak mempertegas bahwa kegiatan berburu menjelma menjadi tradisi penguasa tradisional di Jawa selama ratusan tahun. 

Selepas ibukota Kerajaan Kartasura luluh lantak dan diboyong ke Desa Sala, Paku Buwana II mengadopsi Krapyak, bukan Kandang Menjangan. Maklum bila nama “Kandang Menjangan” tidak dijumpai dalam toponimi di telatah Surakarta.

Sedangkan nama “Krapyak” dapat dilacak di halaman koran Darmo Kondo permulaan abad XX. Kuli tinta secara terang menyebut daerah Krapyak turut dilumat banjir Bengawan Solo yang ajeg meneror penduduk.

Nama kampung Krapyak cukup bertahan lama sebelum akhirnya terhapus dalam memori kolektif  gara-gara disalin menjadi Kampung Baru.

Bisa dipastikan Kandang Menjangan tidak bakal nongol dalam tata ruang keraton Jawa jika golongan darah biru tidak gandrung berburu. Bahkan, sedari zaman Majapahit, acara berburu menulang sumsum pada kerabat raja. Juga dalam cerita Ramayana yang diimpor dari negeri India, terdapat cuplikan sang Rama memanah kijang dalam belantara hutan.

Hanya saja, belum diperoleh sumber yang menyinggung dalam rimbunan kisah itu sudah dibangun Kandang Menjangan. Merujuk toponim di situs peninggalan Kerajaan Majapahit, nama itu belum ditemukan. 

Pertunjukan perburuan didokumentasikan Letnan Hendrik Coster yang kebetulan bertandang ke istana Kartasura tahun 1724. Perwira kompeni ini meriwayatkan Sunan bersama pangeran duduk di atas joli yang dipasang di punggung kerbau.

Lantas, prajurit beserta punggawa berteriak bersahutan sembari memukul kentongan dari arah kiri-kanan. Tujuannya, aneka hewan liar di hutan keluar mendekat ke pemburu yang meneteng senjata.

Sontak satwa terkejut dan berlarian ke arah Sunan. Segeralah tim pemburu memamerkan kepiawaian menembak, memanah, serta melempar lembing. Sekali berburu, teringkus 130 ekor menjangan, 5 ekor banteng, dan 6 ekor sapi liar berhasil dibawa pulang untuk diporak di pamurakan. 

Tak selamanya bangsawan blusukan ke alas berbuah kegembiraan. Pewaris dinasti Mataram Islam merekam kisah pilu kematian Gusti Mangkunegara V tatkala pergi ke hutan. Ia menghembuskan nafas terakhir sewaktu berburu binatang di Alas Kethu, Wonogiri.

Secara medis penguasa Mangkunegaran ini dinyatakan menderita sakit pada tubuhnya. Alas Kethu oleh masyarakat klasik diyakini gudangnya lelembut. Semisal, banas pati, genderuwo, sundel bolong, gudul pringis, dan jrangkong bersliweran di tempat ini.

Lazim digambarkan dalang wayang kulit di Jawa sebagai alas gung liwang-liwung atau rimba belantara tempat makhluk gaib atau danawa bermukim. Sekalipun menguasai hutan, raja bersama pasukannya hendak berburu fauna tetap memohon izin terhadap penunggu hutan dengan merapal mantra dan menyorongkan sesaji. Asa tersembul, supaya mereka diberi keselamatan dan tiada halangan apapun. 

Kini, setelah seabad berlalu, hutan bukan lagi milik penguasa tradisional kerajaan. Kegiatan berburu juga dilarang. Di media sosial, kita sering memergoki warganet muntab dan menggunggah foto pelaku penyiksa satwa hutan yang dilindungi.

Berkat gerakan sosial yang dipacu lewat medsos, para pemburu dan penyincang hewan langka akhirnya berurusan dengan hukum. Lebih baik hutan dimanfaatkan untuk menjaga harmoni alam serta meningkatkan kesejahteraan rakyat sebagaimana titah “raja” dari Solo itu...
 

Heri Priyatmoko
Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma
Founder Solo Societeit

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: