CIPS: Beras Busuk di Gudang Bulog Karena Buruknya Mekanisme Distribusi

TrubusNews
Astri Sofyanti
14 Feb 2019   17:30 WIB

Komentar
CIPS: Beras Busuk di Gudang Bulog Karena Buruknya Mekanisme Distribusi

Stok beras di gudang Bulog. (Foto : Trubus.id/ Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Temuan beras busuk (tak layak konsumsi) di salah satu gudang Bulog yang berada di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung sebanyak 6.800 ton masih menjadi polemik.

Kondisi ini membuat sejumlah peneliti dan pengamat pertanian menanggapi polemik tersebut. Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Assyifa Szami Ilman menilai, temuan 6.800 ton beras busuk di salah satu gudang Bulog di Sumatera Selatan terjadi akibat distribusi yang tidak baik.

"Kalau ada beras menumpuk, artinya selama ini proses distribusi beras belum berjalan dengan baik," kata Ilman dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Rabu (13/2).

Baca Lainnya : 6.000 Ton Beras Busuk Temuan TNI AD Tak Layak untuk Pakan Ternak

Menurutnya, penyaluran yang buruk terjadi akibat mekanisme dan tata kelola distribusi yang tidak berjalan dengan lancar, memengaruhi beras turun mutu.

"Kalau misalnya Bulog bisa ukur berapa suplai masuk, berapa permintaan, dan kapasitas gudang baik, harusnya sudah distribusikan dan mencegah tumpukan-tumpukan jadi busuk," sambungnya.

Diakui Ilman, perbaikan dan peningkatan skema distribusi sangat penting, agar tidak terjadi lagi penumpukan beras yang mengakibatkan beras menjadi busuk di gudang.

"Karena sangat disayangkan kalau beras busuk dan tidak dapat dipakai lagi," terang IIman.

Hal senada juga diungkapkan oleh pengamat pertanian yang juga Guru Besar IPB Dwi Andreas Santosa. Dirinya mengungkapkan, buruknya mekanisme distribusi yang menyebabkan terjadinya penumpukan beras terjadi karena program bantuan pangan non tunai yang kurang efektif.

Baca Lainnya : Bulog Beberkan Penyebab Busuknya Ribuan Ton Beras di Sumsel

Dikatakan Andreas, kebijakan subsidi ini telah mengurangi pagu beras sejahtera (rastra) yang dulu mencapai 15 juta rumah tangga menjadi lima juta rumah tangga. Selain itu, sistem yang memperkenalkan mekanisme e-warung tidak mewajibkan pengambilan beras dari Bulog karena masalah kualitas.

Hal inilah yang diakui Andreas menyebabkan peran Bulog sebagai menyalurkan rastra menjadi menurun. Kondisi ini mengakibatkan kelebihan stok beras di gudang. Menurut Andreas, apabila Bulog memiliki beras dengan kualitas bagus dengan pengemasan yang baik, ia menilai beras akan mampu bertahan lebih dari enam bulan.

"Kalau kualitas berasnya sendiri buruk, beberapa minggu juga pasti sudah busuk," pungkas Andreas. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

KKP Hentikan Sementara SPWP Ekspor Benih Bening Lobster

Peristiwa   26 Nov 2020 - 17:29 WIB
Bagikan:          
Bagikan: