Anak-anak dan Ibu Hamil Kelompok Paling Rentan Terhadap Polusi Udara

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
12 Feb 2019   15:00

Komentar
Anak-anak dan Ibu Hamil  Kelompok Paling Rentan Terhadap Polusi Udara

Ibu hamil dan anak-anak rentan terhadap polusi udara. (Foto : Shutterstock)

Trubus.id -- Meningkatnya polusi udara bisa berakibat sangat fatal bagi kesehatan penduduk bumi. Tak hanya berakibat buruk bagi lingkungan, polusi udara juga bisa mengancam keselamatan manusia.

Sebagaimana diketahui, anak-anak dan ibu hamil merupakan kelompok yang paling rentan terserang penyakit akibat polusi udara yang berasal dari transportasi, emisi pabrik, hingga kebakaran hutan.

"Di urutan pertama, polusi udara sangat rentan kepada anak-anak karena bisa meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Karena kalau terjadi iritasi, tenggorokan alami peradangan, infeksi, jadi ISPA, itu dampak akut yang paling sering muncul," jelas Ketua Departemen Paru Fakultas Kedokteran UI RSUP Persahabatan, DR. dr. Agus Dwi Susanto Sp.P(K), FAPSR, FISR seperti dikutip dari Antara, Selasa (12/2).

Baca Lainnya : 90 Persen Penduduk Bumi Menghirup Kontaminasi Polusi Setiap Hari

Agus mencontohkan, kasus terjadinya ISPA dalam jumlah besar yang terjadi pada anak-anak terjadi saat kebakaran hutan dan lahan di Riau beberapa tahun lalu. Menurutnya, kasus-kasus penyakit yang disebabkan oleh polusi udara cukup tinggi.

Selain anak-anak, Agus menambahkan, ibu hamil menjadi kelompok paling rentan yang berada diurutan ke dua terkena penyakit karena polusi udara. Selain polusi udara yang bersifat akut pada jangka pendek seperti ISPA, laringitis, faringitis dan lainnya, polutan yang masuk ke tubuh ibu hamil juga bisa memengaruhi kesehatan janin.

Sementara itu, kelompok rentan ketiga terhadap polusi udara adalah orang-orang yang lebih banyak melakukan aktivitas di luar ruangan.

"Beberapa penelitian kami di RS Persahabatan menunjukan, orang-orang yang bekerja di daerah terkena polusi cenderung terjadi penurunan fungsi paru. Seperti penyapu jalan, polisi lalu lintas, petugas jalan tol, penjual koran, terlihat penurunan fungsi paru lebih cepat," lanjut Agus.

Dirinya menambahkan bahwa polusi udara memiliki dampak jangka pendek atau akut dan jangka panjang atau kronik pada kesehatan.

"Dampak akutnya adalah efek buruk terhadap kesehatan yang bisa dirasakan secara langsung oleh seseorang apabila terpajan udara dengan polutan tinggi,” ujarnya menerangkan.

Komponen polusi udara baik berupa gas maupun partikel sebagian besar bersifat iritasi atau iritatif, yang bisa mengiritasi mukosa di daerah hidung dan mata. Oleh karena itu keluhan yang sering timbul seperti mata berair dan gatal, mata merah, hidung gatal dan berair, sakit tenggorokan, berdahak dan menjadi batuk.

Baca Lainnya : WHO: Setiap Tahun, 2,2 Juta Nyawa Melayang Karena Polusi udara

Sebagaimana diketahui, ISPA merupakan kasus penyakit yang paling sering muncul apabila kadar polutan di udara sudah sangat buruk. Namun Agus menerangkan, bagi orang yang sebelumnya sudah punya penyakit dasar seperti asma dan penyakit jantung bisa menimbulkan sesak napas.

Sementara efek kronik atau jangka panjang baru bisa dirasakan keluhan penyakitnya bila sudah terpajan selama bertahun-tahun. Efek kronik akibat polusi udara terlihat dalam rentang waktu 10 sampai 15 tahun tergantung lamanya waktu dan jumlah polusi yang terpajan pada seseorang.

Diakui Agus, kasus paling banyak akibat polusi udara secara terus menerus yakni ditandai dengan penurunan fungsi paru.

“Keluhan bisa berlanjut sehingga meningkatkan risiko terjadi asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), dan bila terus menerus berlanjut bahkan meningkatkan risiko terjadinya kanker seperti kanker paru,” tutup Agus. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: