Lokasi Bekas Likuifaksi di Palu Akan Disulap Jadi Tempat Wisata

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
11 Feb 2019   13:30

Komentar
Lokasi Bekas Likuifaksi di Palu Akan Disulap Jadi Tempat Wisata

Wilayah likuifaksi di Perumnas Balaroa, Palu (Foto : Trubus.id/Thomas Aquinus Krisnaldi)

Trubus.id -- Usai diguncang gempa bumi 7,4 magnitudo, tsunami, dan fenomena likuifaksi pada 28 September 2018 lalu di Palu, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu membuat sejumlah lokasi tak lagi dapat dihuni dan dijadikan permukiman penduduk kembali.

Salah seorang anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Matindas J Rumambi mengungkapkan, pemerintah merencanakan semua lokasi bencana likuifaksi yang berada di Balaroa, Petobo dan Jono Oge akan dijadikan tempat wisata.

Lebih lanjut Matindas mengatakan, beberapa lokasi permukiman di Palu dan Kabupaten Sigi ditetapkan pemerintah sebagai lokasi yang tidak boleh lagi menjadi permukiman penduduk.

"Yang pasti tidak ada lagi bangunan rumah atau usaha apapun itu dibangun di lokasi likuifaksi," tambahnya.

Baca Lainnya : Peneliti LIPI: Luas Lahan Pertanian Hilang di Palu Perlu Dihitung

Untuk itu, dirinya meminta masyarakat untuk tidak berharap, apalagi memaksakan diri untuk kembali membangun rumah di atas lokasi bekas likuifaksi tersebut. Terlebih pemerintah telah menyiapkan hunian sementara (Huntara) sambil menunggu pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi warga yang kehilangan rumah di sejumlah wilayah seperti Petobo dan Balaroa yang lokasinya sudah ditetapkan di Duyu dan Kelurahan Tondo.

Dua lokasi itu, diakui Matindas, akan dibangun permukiman tetap bagi korban likuifaksi untuk wilayah Kota Palu.

“Seperti juga dengan korban gempa bumi dan likuifaksi di Jono Oge, Kecamatan Sigibiromaru dan Sibalaya, Kecamatan Tanambulava. Lokasi Huntap sudah disediakan pemerintah,” ujar Matindas.

Lebih lanjut pihaknya menyatakan, pemulihan ekonomi empat bulan pasca bencana di Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong berjalan cukup cepat.

Baca Lainnya : Kemenkes dan WHO Lakukan Rekonstruksi Bencana Gempa-Tsunami Palu

Menurutnya, hal itu bisa dilihat dari mulai ramainya pusat-pusat perekonomian seperti pasar-pasar tradisional maupun modern, toko, swalayan, SPBU, terminal angkutan darat dan bandara cukup ramai.

Begitu pula dengan arus kendaraan bermotor yang lalu-lalang saban hari cukup padat. Bahkan saat pagi hari waktu kerja dan masuk sekolah di beberapa ruas jalan di Kota Palu terlihat macet.

"Ini menunjukan bahwa perekonomian masyarakat mulai pulih setelah sebelumnya porak-poranda diterjang gempabumi dan tsunami," pungkas Matindas. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan: