Gunung Karangetang Erupsi, 132 Orang Mengungsi dan 499 Jiwa Terisolir

TrubusNews
Thomas Aquinus | Followers 2
11 Feb 2019   12:30

Komentar
Gunung  Karangetang Erupsi, 132 Orang Mengungsi dan 499 Jiwa Terisolir

Aliran lava erupsi Gunung Karangetang (Foto : Dok BNPB)

Trubus.id -- Memasuki hari ke lima erupsi Gunung Karangetang di Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara, yang lava mengakibatkan 132 jiwa orang masih mengungsi, dan 499 jiwa yang masih terisolir. 

Informasi tersebut disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, lewat keterangan tertulis, Senin (11/2). Dikatakannya, ada empat kecamatan yang terdampak erupsi Gunung Karangetang yakni Siau Barat Utara, Siau Tengah, Siau Timur, dan Siau Timur Selatan. Kecamatan yang paling parah kena dampak adalah Kecamatan Siau Barat Utara. 

"Seluruh penyintas berasal dari kecamatan ini," kata Sutopo.

Para penyintas mengungsi di shelter Passeng, jumlahnya ada 132 jiwa atau 34 kepala keluarga, terdiri dari 69 orang laki-laki dan 63 perempuan. Di pengungsian SD GMIST Batubulan ada 42 orang atau 11 kepala keluarga, terdiri dari 20 laki-laki dan 22 perempuan. Ada juga 42 orang yang mengungsi di rumah-rumah kerabat. Total jumlah penyintas per 10 Februari 2019 adalah 216 jiwa, bertambah 3 jiwa dari hari kemarin.

Baca Lainnya : Tiga Jalur Evakuasi Disiapkan Guna Mengantisipasi Erupsi Gunung Merapi 

"Selain itu, terdapat 499 jiwa yang masih terisolir di Kampung Batubulan di mana 42 jiwa berstatus penyintas dan 457 jiwa tetap tinggal di rumah masing-masing," ujarnya.

Lokasi yang terisolir adalah Kampung Batubulan. Rombongan Bupati, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencoba membuka akses Kampung Batubulan. Perjalanan laut ditempuh dari Pelabuhan Pehe ke dermaga Batubulan selama 30 menit. Kapal nelayan terkadang tidak dapat merapat karena kondisi tinggi gelombang dan cuaca. Saat ini, BPBD menyewa kapal nelayan untuk mendistribusikan bantuan ke Kampung Batubulan.

Kondisi lainnya, jika sudah sampai di dermaga Batubulan, maka pengunjung perlu berjalan kaki menempuh dengan medan curam sejauh 900 meter. Akses ini berupa jalan setapak yang dibeton sekkitar 80 hingga 100 cm, Kondisi jalanan berlumut. Kendaraan roda dua bisa melintas namun perlu ekstrahati-hati.

Lokasi pengungsian warga Kampung Batubulan, yakni SD GMIST dinilai masih aman dari aliran lava, yakni berjarak sekitar 1 hingga 1,5 km dari lava. Namun aktivitas Gunung Karangetang masih perlu diwaspadai karena sifatnya fluktuatif. 

Baca Lainnya : Erupsi Gunung Karangetan Kembali Mengganas, Ratusan Warga Mengungsi

"Anak-anak di Kp. Batubulan dapat kembali bersekolah mulai Senin, 11 Februari 2019 di SD Gmist dengan pembagian jadwal menyesuaikan dengan kondisi penyintas," ujar Sutopo.

Kebutuhan masyarakat setempat saat ini berupa air bersih dan air minum. Selama ini diketahui mereka mengandalkan air tadah hujan. 

Sementara itu, pasokan aliran listrik di Kampung Batubulan juga terbatas. Pengiriman genset melalui jalur laut sulit dilakukan. PLN juga kesulitan menyediakan listrik di Kampung Batubulan karena kases jalur darat yang tertutup aliran lava. Saat ini warga mengandalkan genset sebanyak empat unit, dengan BBM yang terbatas. 

"Ketersediaan BBM harus selalu dipantau terkait supply dan ketersediaanya mengingat lokasi yang terisolir menggunakan genset untuk aktivitas sehari - harinya dikarenakan aliran listrik ke Kampung Batubulan terputus oleh aliran lava," ujar Sutopo. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: