Kementan Dihimbau Waspadai Masuknya Hama Ulat Grayak Jenis Baru

TrubusNews
Thomas Aquinus | Followers 2
08 Feb 2019   09:30

Komentar
Kementan Dihimbau Waspadai Masuknya Hama Ulat Grayak Jenis Baru

Hama Ulat Grayak (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian dihimbau untuk mewaspadai potensi masuknya hama ulat grayak jenis baru yang disebut "Fall Armyworm" ke Indonesia.

Peneliti Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB Idham Sakti Harahap di Bogor, Kamis (7/2) mengatakan,  "Fall Armyworm" atau Spidoptera frugiperda merupakan salah satu dari spesies ulat grayak yang mempunyai tingkat serangan dan jelajah sangat tinggi.

"Pada tahun 2016 mewabah di Benua Amerika, kemudian masuk  Benua  Afrika tahun  2017  dan menyebar di  wilayah Asia hingga masuk ke Thailand pada tahun 2018," ujarnya.

Dikatakannya, hama ini termasuk  yang sulit dikendalikan, karena  imagonya cepat menyebar, bahkan termasuk penerbang kuat yang dapat mencapai jarak cukup jauh dalam satu minggu, bahkan dengan bantuan angin bisa mencapai 100 km.

Baca Lainnya : 6,8 Ton Bawang Pembawa Hama Penyakit Asal Pakistan, Dimusnahkan

Sebelumnya, pada tahun 2017, hama tersebut menyebar hampir ke semua negara yang menanam jagung seperti di Afrika dan Afrika Selatan. Kini, hama tersebut sudah menyebar di negara tropika dan subtropika, seperti Brasil dan Amerika Selatan, di  Asia sendiri sudah masuk ke Yaman, India, Myanmar dan Thailand.

Mengingat banyak produk pertanian masuk ke Indonesia, Idham mengingatkan kemungkinan hama tersebut masuk terbawa produk sayuran yang diimpor dalam bentuk larva. 

"Ini patut kita waspadai dan kita harus mulai mengawasi produk pertanian impor. Kementerian Pertanian terutama karantina harus memperketat pengawasan terhadap produk yang masuk," ujarnya. 

Baca Lainnya : Hama Tikus Serang Panajam, 25 Hektare Sawah Puso

Brazil sendiri mempunyai pengalaman pahit dalam mengendalikan hama ulat yang bergerak secara masif seperti pasukan tentara tersebut.  

Bahkan, Brazil harus mengeluarkan biaya hingga 600 juta dolar AS. Sementara itu di negara-negara Afrika yang juga terserang hama tersebut bukan hanya menurunkan produksi jagung, tapi juga menurunkan pemasaran dan perdagangan internasional. 

Sementara itu, peneliti Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB lainnya, Dewi Sartiami mengungkapkan, untuk mengendalikan hama tersebut bukan hanya media pembawa yang diwaspadai, tapi juga ada kemungkinan manusia yang membawanya, terutama yang bepergian ke wilayah yang sedang mewabah Spidoptera frugiperda.

"Jangan sampai Spidoptera frugiperda sampai invansif di Indonesia. Kasus rusaknya tanaman jagung di Papua yang mencapai 500 ha secara cepat dan serempak harus kita waspadai," tegasnya.

Baca Lainnya : Baru Sebulan Ditanam, Sawah Petani Mukomuko, Diserang Hama

Kepala Balai Penelitian Serealia Balitbangtan, Maros, M. Azrai menegaskan, hingga kini pihaknya mengakui belum ada laporan tanaman jagung yang terserang hama Spidoptera frugiperda.  

Dia menyatakan hama  yang selama  ini  ada yakni penggerek batang, penggerek tongkol, aphis, belalang kembar, sedangkan ulat grayak yang menyerang tanaman jagung memang dari jenis sudah adadi Indonesia yakni Spidoptera lituran dan exigua.[NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          

Baru Dibuka, Bukit Gunung Rinjani Terbakar

Thomas Aquinus   Peristiwa
Bagikan:          
Bagikan: