Jaga Kualitas Gambut di Kebun Sawit, Peneliti Jepang Terapkan "Aero Hydro Culture"

TrubusNews
Kur Syu | Followers 2
06 Feb 2019   15:45

Komentar
Jaga Kualitas Gambut di Kebun Sawit, Peneliti Jepang Terapkan

Workshop Pengembangan Sistem Aero Hydro Culture di Kantor Bupati Siak (Foto : Trubus.id)

Trubus.id -- Kabupaten Siak berencana menerapkan Aero Hydro Culture untuk menjaga kelestarian gambut serta meningkatkan produktivitas tanaman kebun di atasnya. Bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut serta beberapa lembaga dan peneliti, termasuk dari Jepang, sistem bercocok tanam ini disebut bisa memangkas ongkos produksi.

Menurut Kepala BRG Nazir Foead, Siak terpilih karena kabupaten ini bersemangat mewujudkan program hijau yang digadang-gadang oleh Bupati Syamsuar. Sejumlah kelompok tani juga bersemangat dan menyediakan lahannya sebagai bahan uji coba.

"Tidak hanya untuk kebun sawit, tapi juga kebun nanas, kelapa, kopi dan jagung," kata Nazir kepada wartawan usai Workshop Pengembangan Sistem Aero Hydro Culture di Kantor Bupati Siak.

Baca Lainnya : IUCN Pastikan Sawit Indonesia Ramah Lingkungan

Dalam menyusun sistem bercocok tanam ini, BRG juga melibatkan peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertanian dan guru besar dari Universitas Hokaido Jepang, Prof Mitsuro Osaki.

Sistem ini dimaksudkan menjaga stabilitas kebasahan gambut dengan melihat ketinggian permukaan air di sekat kanal, cadangan air di embung, dan metode pemupukan di sekitar tanaman di atas permukaan tanah berserat itu. 

"Pemupukan bisa dilakukan setengah saja, tentunya murah bagi petani dan meningkatkan produktivitas tanaman di atasnya," terang Nazir.

Bupati Siak sekaligus Gubernur Riau, Syamsuar, menyebut sistem ini akan diterapkan di seluruh Bumi Lancang Kuning. 

Baca Lainnya : Tahan Laju BBM, Kementerian ESDM Dorong Energi Hijau Sawit

Menurut Syamsuar, sistem ini mendidik masyarakat agar tidak membakar saat membuka lahan, menjaga permukaan gambut dan meningkatkan produktivitas. Petani nantinya juga mendapat pengetahuan baru dalam bercocok tanam di atas gambut.

"Di Indragiri Hilir juga diterapkan nanti, lihat hasilnya. Apalagi sebagian besar lahan di Riau adalah gambut, salah satunya di Siak," ucap Syamsuar.

Kedepannya, Pemkab Siak dengan BRG serta peneliti dan NGO akan menyiapkan tenaga penyuluh. Tanpa penyuluhan dan praktik di lapangan, program ini akan hanya menjadi teori di atas kertas.

Praktik Aero Hydro Culture (Foto: Trubus.id)

"Peran penyuluh sangat penting, dan jangan salah kaprah, ini tidak hanya untuk sawit tapi juga nanas, kopi dan kelapa," tegas Syamsuar.

Sementara itu, Prof Mitsuro Osaki menjelaskan, sistem ini mengutamakan manajemen permukaan tanah dan metode pemupukan. Selama ini, petani hanya menebar pupuk di atas gambut tanpa tahu materi pupuk terserap ke tanah.

Baca Lainnya : Pemerintah Terus Berjuang Melawan Stigma Negatif Sawit Kotor di Eropa

Osaki menyebut gambut paling lambat menyerap nutrisi pupuk di permukaan. Perlu ada beberapa zat ataupun bahan organik tambahan dengan radius beberapa centimeter dari batang.

"Pemupukan selama ini, 80 persennya tidak terserap. Makanya perlu ada page-page penyimpan bahan kompos disimpan di atas tanah sehingga akarnya ke permukaan. Jadi nutrisi dan oksigen terserap dengan baik dan produktivitas tanaman bisa dua kali lipat," terang Osaki.

Osaki juga menyebut sistem ini juga memerlukan ketinggian air di kanal sekeliling gambut ditinggikan, meski regulasi yang ada saat ini adalah 40 centimeter. Ketinggian perlu ditambah lagi hingga 20 sampai 30 centimeter.

"Dengan ini, petani tidak lagi membuang-buang pupuk. Sebagai catatan, sistem ini tidak bisa diterapkan pada padi," sebut Osaki. [NN]
 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: