Unik, Burung Emprit Meriahkan Imlek di Vihara Tertua Banten 

TrubusNews
Yandi | Followers 0
05 Feb 2019   06:15

Komentar
Unik, Burung Emprit Meriahkan Imlek di Vihara Tertua Banten 

Pelepasan burung emprit (Foto : Yandi)

Trubus.id -- Imlek identik dengan lampion. Namun di vihara ini terdapat tradisi unik yang tidak dilakukan di tempat lain, yakni melepas burung emprit (Lonchura Leucogastroides)

Salah seorang pengunjung vihara yang bernama Daliah malam itu melepaskan 58 ekor burung emprit di Vihara Avalokitesvara, sebagai simbol lepasnya malapetaka.

Dia melepas burung itu usai beribadah di Vihara yang berusia ratusan tahun, saat malam Imlek 2570, di Kelurahan Pabean, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten.

"Kebebasan, berderma intinya. Jumlah burung yang dilepas sesuai umur, tapi ada juga yan melepas delapan, ada juga yang 10," kata Daliah warga Jakarta Barat, yang ditemui usai melepas pilihan burung emprit, di Kota Serang, Banten, Selasa malam (05/02/2019).

Di Vihara yang berdekatan dengan Masjid Agung Kesultanan Banten dan Masjid Pecinan itu, terdapat bedug yang menjasi simbol Islam, dan Neng-neng simbol agama Budha.

Bedug dipukul 108 kali dan Neng-neng sebanyak tiga kali. Keduanya merupakan simbol toleransi antar umat beragama yang terjaga selama ratusan tahun di Banten.

"Nyambut (tahun baru imelak) saja, itu sudah tradisi. Kalau bedug (ditabuh) 108, neng-neng (ditabuh) tiga kali. Neng-neng sudah tua, kayaknya ada 100 tahun," kata Tek An, pemukul bedug dan neng-neng, saat ditemui di Bukhara Avalokitesvara, Kota Serang, Selasa malam (05/02/2019).

Vihara Avalokitesvara, awalnya berdiri tahun 1759 dan berlokasi di Loji Belanda. Lalu di tahun 1725, pindah ke selatan menara Masjid Pecinan Tinggi.

Hingga akhirnya pada 1774 Masehi menempati lahan di Kampung Pamarican, Desa Pabean, Kecamatan Kasemen, Kota Serang hingga saat ini. Vihara ini jaraknya sangat dekat dengan Masjid Agung Kesultanan Banten.

Banten yang saat itu sebuah kesultanan besar dengan Pelabuhan Karangantu yang mendunia. Seorang putri bernama Ong Tin Nio bersama Anak Buah Kapal (ABK) dalam perjalanan dari China menuju Surabaya, memutuskan bermalam di Pamarican. Daerah itu merupakan penghasil merica.

Putri Ong pun merasa betah tinggal di Banten dan mendirikan wihara yang awalnya berada di bekas kantor bea (douane). Namun kehadirannya oleh masyarakat sekitar dianggap dapat merusak akidah dan kebudayaan mereka.

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah pun menegur keras masyarakat Banten dan memediasi antara kedua belah pihak. Sunan Gunung Jati menjelaskan tidak ada paksaan untuk memeluk agama dalam Islam.

Setelah masalah dapat diselesaikan, Sunan Gunung Jati menawarkan kepada sang putri dan pengikutnya untuk memeluk Islam tanpa adanya paksaan. Hingga akhirnya, sang putri yang cantik jelita beserta pengikutnya menjadi mualaf.

Kedatangan masyarakat Tiongkok ke Banten memiliki banyak versi. Ada yang menyebutkan, masyarakat China datang ke Kesultanan Banten sekitar abad 17 masehi dengan bukti banyak ditemukan perahu China yang berlabuh di Banten dengan tujuan berdagang dan barter dengan lada pada abad itu.

Berdasarkan catatan sejarah dari JP Coen, banyak perahu China yang membawa dagangan senilai 300 ribu real. Di mana, dalam kelanjutannya, masyarakat China tak hanya berdagang, tapi bermukim di Banten dengan jumlah lebih dari 1.300 kepala keluarga (KK).

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: