LIPI Kembangkan KIT Deteksi Biomarker Kanker Panyudara

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
04 Feb 2019   18:15

Komentar
LIPI Kembangkan KIT Deteksi Biomarker Kanker Panyudara

Peneliti Pusat Penelitian Biotoknologi LIPI, Desriani (kiri) saat menunjukkan KIT Deteksi Biomarker Kanker Payudara HER2. (Foto : Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Penyakit kanker menempati urutan tertinggi sebagai penyakit dengan angka kematian tertinggi di dunia. Sebanyak 2,1 juta perempuan per tahun mengidap kanker di seluruh dunia. Tercatat, angka kematian yang ditimbulkan sebesar 627.000 orang atau sebesar 15 persen dari jumlah pengidap kanker di dunia.

Bahkan berdasarkan data World Health Organization (WHO) kanker payudara menempati urutan pertama sebagai penyakit mematikan yang diderita oleh perempuan. 

Selain itu, data WHO menyebut, angka kejadian kanker payudara merupakan yang paling tinggi yakni sebesar 40 per 100.000 penduduk.

Lembaga Ilmu Pengetahuan indonesia (LIPI) telah mengembangkan KIT Deteksi Biomarker Kanker Payudara Positif HER2 sebagai pendeteksi dini penyakit mematikan ini, dengan kata lain, untuk menentukan jenis terapi atau pengobatan kanker secara tepat. 

"Deteksi ini untuk mendapatkan langkah selanjutnya ke arah penentuan pasien untuk terapi dengan obat trastuzumab," ungkap peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Desriani di Widya Sarwono LIPI, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (4/2).

Lebih lanjut dikatakan Desriani, pada kanker payudara, ada tiga gen yang menjadi penyebab utama munculnya kanker yakni estrogen receptor, progresteron receptor dan human epidermal growth factor receptor 2 (HER2).

Dirinya menambahkan, sebesar 20 persen pengidap kanker payudara atau satu dari lima pengidap kanker payudara disebabkan oleh HER2 positif.

"Kit ini nanti digunakan untuk mendeteksi apakah pasien itu merupakan pasien kategori HER2, jadi nanti kita akan menentukan terapi mana yang tepat," tuturnya.

Desriani menuturkan kit tersebut telah berhasil divalidasi dengan metode Chromogenic In Situ Hybridization (CISH) dengan tingkat kesesuaian yang tinggi, yakni 86 persen untuk mendeteksi status HER2 pada pasien kanker. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kesesuaian pemeriksaan imunohistokimia (IHK) dengan Fluorescence in Situ Hybridization (FISH) yang hanya berkisar 12-36 persen. 

Kit tersebut menentukan status HER2 yakni positif atau negatif pada pasien kanker payudara berbasis pada reaksi qPCR. 

“Untuk mendeteksi status HER2, metode FISH yang yang menghasilkan diagnosis baku emas biayanya sebesar Rp2 juta sampai Rp2,5 juta, dan biaya pemeriksaan yang harus dikeluarkan dengan metode IHK sebesar Rp500.000 sampai Rp750.000,” ujar Desriani menjelaskan.

Sementara itu jika menggunakan kit tersebut dan qPCR maka biaya pemeriksaan status HER2 sebesar Rp150.000-Rp200.000. Dengan kata lain, pemeriksaan status HER2 menggunakan KIT tersebut akan lebih murah bagi pasien. 

“Semakin dini status HER2 terdeteksi, maka akan semakin tinggi juga peluang kesembuhan penderita kanker, begitu juga sebaliknya,” pungkasnya.


 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: