Makna Tradisi Etnis Tionghoa Saat Makan Malam Sambut Imlek

TrubusNews
Reza Perdana | Followers 2
04 Feb 2019   07:00

Komentar
Makna Tradisi Etnis Tionghoa Saat Makan Malam Sambut Imlek

Ilustrasi makan malam bersama sambut Imlek (Foto : Trubus.id)

Trubus.id -- Dalam setiap menyambut tahun baru Imlek, ada satu tradisi yang tidak boleh dilewatkan oleh etnis Tionghoa, yaitu makan besar bersama keluarga. Tradisi ini biasanya dilakukan pada malam tahun baru Imlek.

Seorang tokoh Tionghoa di Kota Medan, Pandita Narapati Widyanata (Bambang ES) mengatakan, makan besar bersama keluarga di malam tahun baru Imlek bertujuan mempererat hubungan keluarga, juga menyongsong kedatangan tahun baru Imlek.

Dijelaskannya, malam tahun baru Imlek disebut chuxi, memiliki arti menghapus yang lama dan hal-hal jelek. Malam terakhir sebelum Imlek diisi dengan berdoa untuk menyongsong kedatangan tahun baru atau Da Nian Ye.

Baca Lainnya : Perpaduan 2 Budaya Betawi dan China Rayakan Imlek di Pasar Kaget Ikan Bandeng

"Biasanya seluruh anggota keluarga kembali ke rumah orang tua untuk makan bersama, sebagai ungkapan kebersamaan dan keutuhan keluarga dalam menyambut tahun baru Imlek bersama sama mensyukuri kehidupan," katanya, Minggu (3/2).

Pandita Narapati Widyanata (Bambang ES) menyebut, ada empat makanan wajib yang biasa disajikan saat makan besar di malam Imlek bagi keluarganya, yakni daging, ayam, ikan dan mie. Setiap makanan yang tersaji memiliki arti.

"Mie bermakna panjang umur, ayam dan ikan berarti kebahagiaan dan keberuntungan. Diharapkan setiap tahun memiliki rezeki. Daging berarti kemapanan," sebutnya.

Baca Lainnya : Jelang Imlek, Pengrajin Hio di Medan Kebanjiran Pesanan

Pandita Narapati Widyanata mengungkapkan, makanan wajib lainnya adalah kue keranjang atau nian gao. Makna memakan kue keranjang diharapkan rezeki seseorang setiap tahun bertambah tinggi. 

"Makanan yang disajikan di malam tahun baru Imlek sedikit berbeda dengan hari biasa, dengan harapan keluarga selalu terjaga keharmonisan dan kebaikan," ungkapnya.

Dijelaskan juga, mengutip dari buku Tiongkok, sejak zaman Dinasti Tang, malam tahun baru Imlek dirayakan dengan pesta kembang api. Kebanyakan keluarga tidak tidur sampai pagi, tujuannya menyambut tahun baru.

Baca Lainnya : Sejarah Cerita Bandeng Saat Imlek

"Menyalakan petasan dan kembang api dipercaya dapat mengusir mahluk jahat atau disbut nian. Menurut legenda suka makan manusia. Suara keras petasan dipercaya menakuti si nian," jelasnya.

Dalam agama Buddha, yang berakulturasi terhadap budaya setempat, tidak melarang adanya perayaan tahun baru Imlek. Tahun baru Imlek dianggap sebagai wujud rasa bakti dan memiliki makna tersendiri. 

Hal yang biasanya dilakukan seperti sembayang tutup tahun dan menyalakan pelita, serta mendoakan semua keluarga memiliki kesehatan, kesejahteraan juga keharmonisan. Begitu juga dengan bangsa dan negara.

Baca Lainnya : Sandiaga Uno: Imlek Momentum Saling Berbagi Rejeki

"Yang terpenting ungkapan terima kasih dan permohonan maaf atas semua kesalahan kepada orang tua dengan bersujud sebagai bentuk bakti," terangnya.

Pandita berharap, adat dan tradisi seperti ini harus tetap dijalankan oleh generasi muda ke depannya.

"Dengan begitu, budaya tidak luntur tergerus zaman," harapnya. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Mentan Amran: Mau Kaya, Jadi Petani!

Astri Sofyanti   Peristiwa
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: