Sejarah Cerita Bandeng Saat Imlek

TrubusNews
Heri Priyatmoko | Followers 2
03 Feb 2019   15:00

Komentar
Sejarah Cerita Bandeng Saat Imlek

Hidangan iIkan bandeng (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Sahabat Tionghoa sumringah. Wajah Pecinan bersolek, seolah digugah dari tidur panjangnya. Lampion tampak bergantungan indah. Semua ini bermuara pada penyambutan tahun baru Imlek dengan semarak. Kue ranjang sudah terbagi, ikan bandeng juga dicari. Muncul pertanyaan menggelitik, sedari kapan bandeng merasuk dalam tradisi Imlek hingga menyemarakkan meja makan Nusantara?

Jenis ikan ini dibudidayakan petani di area tambak. Hanya saja, namanya jarang terekam dalam naskah lama yang lahir dari jagad bahari. Buahnya, kita sukar melacak sumber primer tentangnya. Seperti penelusuran Asep Yudha Wirajaya (2013) bahwa ikan yang direken pustaka lawas Melayu adalah ikan kakap, ikan teri, ikan tenggiri, belut hingga ikan pari. Pujangga menempatkan aneka ikan itu laiknya tokoh manusia yang berkarakter khas. Ambillah contoh, ikan kakap digambarkan sebagai tokoh yang berani menegakkan kebenaran. Ia melarang ikan bahung dan ikan lindi berbuat kemungkaran. 

Bandeng nyaris tidak mempesona di mata juru pena yang tinggal kawasan pesisir maupun pedalaman. Kendati demikian, ikan tersebut dianggap pokok oleh komunitas China tatkala Imlek tiba. Alwi Shahab dalam buku Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia (2013) menyediakan informasi berharga. Pada permulaan abad XX, sebelum Imlek menyapa, orang sudah sibuk membersihkan rumah. Pintu dan jendela dicat. Tak ketinggalan pula ubin dan perabotan rumah digosok sampai kinclong. Di dapur, nyonya berpeluh bikin ager-ager, manisan buah atep, dan manisan buah ceremai. 

Baca Lainnya : Diburu Warga Keturunan dan Betawi, Pedagang Bandeng Rawa Belong Kebanjiran Rejeki

Masyarakat Tionghoa Betawi menciptakan tradisi menarik, yakni belanja ikan bandeng dan kue Cina di pasar malam yang digelar di sekitar lapangan Glodog dan Pancoran. Laris manis tanjung kimpul, dagangan habis uang ngumpul. Ungkapan ini berlaku bagi penjual bandeng lantaran dagangannya ludes diburu pengunjung basar. Stok bandeng di gudang tandas. Di pawon, menyeruak aroma bandeng yang digoreng dan bakal dihidangkan di atas meja santap. Kalau orang Jawa saban pesta Lebaran menyembelih ayam sebagai bahan pelengkap masakan opor, maka kaum Tionghoa mengolah bandeng senikmat mungkin untuk sajian Imlek.

Salah satu penjual ikan bandeng di pasar (Foto: Istimewa)

Diriwayatkan juga merebak tradisi “anter” (mengantar) makanan. Sebuah keharusan bagi calon mantu membungkus satu bandeng utuh, lantas membawanya tatkala sowan ke rumah calon mertua. Dalam batas tertentu, kegiatan beroleh-oleh bandeng segar tersebut kadang dijadikan mistar alias alat pengukur keseriusan calon mantu terhadap pacarnya. Sekaligus, pembuktian atas sikap menghargai calon mertua. Tradisi unik (untuk tidak bilang ganjil) ini tak boleh diremehkan detik itu. Pasalnya, seumpama calon mantu bertandang tanpa menyertakan bandeng dalam budaya anteran ini, bakal dipersoalkan, minimal dirasani. Maklum, orangtua merasa memiliki hak prerogatif terhadap anak gadisnya yang hendak dipinang lelaki pembawa bandeng tadi. Kemudian, ikan pemberian itu dimangsak dengan bumbu pilihan dan dipakai lauk makan orang serumah.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: