Sejarah Cerita Bandeng Saat Imlek

TrubusNews
Heri Priyatmoko | Followers 2
03 Feb 2019   15:00

Komentar
Sejarah Cerita Bandeng Saat Imlek

Hidangan iIkan bandeng (Foto : Istimewa)

Dari sisi pandang historis, bandeng di kalangan Tionghoa memang istimewa. Saking dianggap barang mewah, saudagar dan “kepala suku” Tionghoa sering menjatah pemerintah kolonial Belada berupa bandeng berukuran besar dengan mata mengkilap bak permata. Justru yang diserahkan sewaktu menghadap ke tuan residen bukanlah ikan pari dan ikan kakap yang kaya vitamin. Bandeng pilihan ini tidak semata-mata untuk penghomatan, namun guna mencuri hati Belanda supaya izin kerajaan bisnisnya di daerah pesisir diperlancar. Selebihnya, upaya merawat tali hubungan yang memposisikan bangsa China di tempat kedua dalam piramida sosial di atas pribumi.

Sejarawan Tionghoa gaek, Onghokham, menggemari bandeng jua. Bahkan, dalam kondisi sakit kritis ahli sejarah yang jago memasak ini masih ingat dengan perkara bandeng. Dituturkan sahabatnya, AB. Lapian (2007) yang diminta Ong menyurat wasiat berisi pembagian “warisan” yang ada di rumahnya. Semisal, bandeng di deep-freeze untuk si A, dan aneka botol minuman keras untuk si B. Sudah menghadapi maut, tapi masih juga memikirkan isi lemari es dan koleksi alkohol…” Jika tidak gandrung pada seekor bandeng, mustahil Ong teringat akan persediaannya di rumah kendati ajal siap menjemput. Kesukaan ahli sejarah kuliner ini terhadap ikan juga diperkuat dengan kesaksian muridnya, Kasijanto (2007).

Baca Lainnya : Jelang Imlek, Permintaan Kue Keranjang di Sukabumi Lesu

Suatu hari, dalam kelas kuliah Ong terjadi “keributan” kecil. Bukan lantaran diskusi yang panas, namun gara-gara tersebar bau amis yang menyengat. Setelah ditelisik, rupanya dalam tas kain lusuh milik Ong, yang digeletakkan di lantai begitu saja, tersimpan beberapa ekor ikan segar. Tatkala si murid bertanya pada gurunya, dijawab bahwa dirinya baru pulang dari belanja ikan di Pasar Ikan pada pagi buta, lalu “mampir” mengajar di kampus.

Menarik pula mengusut riwayat kedekatan penguasa pribumi dengan bandeng. Sebelum wilayah pesisir berikut segala potensi lautnya yang dimiliki Kerajaan Mataram Islam jatuh ke tangan Kompeni (VOC), keluarga bangsawan tidak jarang dipasok bandeng dan ikan laut lainnya oleh bupati pesisir. Penyerahan ikan tersebut merupakan pajak bawahan terhadap junjungannya yang diatur dalam selarik kalimat: asok bulu bekti glondong pangareng-areng. Di saat tertentu, bandeng diolah di pawon ageng demi memanjakan lidah raja. 

Baca Lainnya : Jelang Imlek, Pengrajin Hio di Medan Kebanjiran Pesanan

Bukti akrabnya Sunan Paku Buwana dengan bandeng, yakni di kompleks istana Kasunanan dijumpai kolam Bandengan yang cukup populer saat itu. Nama bandengan terinspirasi dengan ikan bandeng yang terbilang mewah. Dalam koran Bromartani tahun 1867, saya temukan secuil fakta historis menggambarkan kolam Bandengan seluas 400 meter persegi. Di tengahnya terdapat semacam pulau dan rumah-rumah kecil nan indah. Air begitu bening berasal dari sumur. Raja dikawani selir serta buah hatinya acap bersantai naik perahu kecil di kolam tersebut. 

Dari kilas balik cerita di muka, diketahui bahwa bandeng bikin lidah bergoyang semua kalangan dari masa ke masa. Bandeng bukan sebatas pelengkap nasi kucing di angkringan, namun juga hadir dalam perayaan Imlek yang meriah. Semoga rejeki Imlek tidak mandeg mengalir pada penjual ikan saja. Tetapi petani tambak diharapkan turut berpesta dengan harga penjualan tidak jeblok, sehingga tidak hanya kebagian amisnya saja. [NN]

Heri Priyatmoko
Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma
Menulis buku “Sejarah Wisata Kuliner Solo”
 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: