Tahan Laju BBM, Kementerian ESDM Dorong Energi Hijau Sawit

TrubusNews
Thomas Aquinus | Followers 2
03 Feb 2019   08:00

Komentar
Tahan Laju BBM, Kementerian ESDM Dorong Energi Hijau Sawit

Ilustrasi energi hijau sawit (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Sebagai tindak lanjut dari fokus Pemerintah dalam menahan laju tingginya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini mulai mendorong penggunaan energi hijau ramah lingkungan (green fuel) dari minyak kelapa sawit (crude palm oil/cpo) di tahun 2019.

Kehadiran energi hijau dipercaya dapat memberikan dampak positif bagi Indonesia, terutama untuk capaian bauran energi terbarukan sebesar 23 persen pada 2025.

Demi merealisasikan hal tersebut, Pemerintah telah menggarap sektor transportasi melalui penerapan mandatory bauran 20 persen biodiesel (B20) Fatty Acid Methyl Ether/FAME ke dalam BBM yang bergulir sejak September 2018 lalu.

Baca Lainnya : Pemerintah Terus Berjuang Melawan Stigma Negatif Sawit Kotor di Eropa

Pemerintah pun menargetkan tingkat penggunaan CPO mencapai 13 juta kiloliter atau 235.247 barel per hari (bph) pada tahun 2025. Optimisme  tersebut didukung dengan selama setahun terakhir, realisasi produksi biodiesel diketahui sudah mencapai 6 juta kiloliter atau 108.576 bph.

Mengacu pada angka yang melebihi dari yang ditargetkan sebesar 5,7 juta KL di tahun 2018. Menteri ESDM Ignasius Jonan menilai sebagai peluang investasi jangka panjang bagi Pertamina lewat pengembangan green refinery dengan skema bisnis.

“Kalau mobil bermesin bensin, kalau mau digabung etanol kan ketersediaannya sangat minim. Kalau untuk kendaraan bermesin diesel kan populasinya 2/3 sehingga kami mendorong Pertamina untuk bekerja sama membuat green diesel [Biosolar dari CPO],” kata Menteri Jonan baru-baru ini.

Baca Lainnya : Serapan Sawit untuk Biodisel Nasional Mengalami Peningkatan

Sementara itu, Pertamina-Eni, perusahaan migas asal Italia telah memperkuat kerjasama di antara kedua belah pihak dengan menandatangani 3 kesepakatan.

Dua kesepakatan terkait dengan pengembangan Green Refinery, yaitu Head of Joint Venture Agreement untuk pengembangan Green Refinery di Indonesia serta Term Sheet CPO processing di Italia.

Kesepakatan ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman kerja sama yang telah ditandatangani Pertamina dengan Eni pada September dan Desember 2018.

Baca Lainnya : Tolak Tegas Didikte Soal Sawit, Indonesia Gelar Pertemuan WEF

Sementara satu kesepakatan lainnya yaitu MoU terkait circular economy, low carbon products dan renewable energy disaksikan langsung oleh Menteri Jonan.

Di samping untuk menekan impor minyak, Jonan berpendapat, keberadaan kilang green fuel akan mendorong konsumsi CPO di dalam negeri, dengan kalkulasi sebesar 200.000 barel per hari. Dengan begitu, produsen sawit akan mendapatkan kepastian serapan CPO di dalam negeri tanpa harus menggantungkan diri pada ekspor. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: