Pemerintah Terus Berjuang Melawan Stigma Negatif Sawit Kotor di Eropa

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
02 Feb 2019   12:00

Komentar
Pemerintah Terus Berjuang Melawan Stigma Negatif Sawit Kotor di Eropa

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Indonesia dan sejumlah negara pengekspor minyak sawit utama seperti Thailand, Colombia, Nigeria dan Malaysia mendapat dukungan positif terkait pembuktian bahwa kampanye 'sawit kotor' justru bertentangan dengan pencanangan tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs). Dubes Indonesia untuk Swedia, Bagas Hapsar mengatakan bahwa Indonesia konsisten untuk tetap memperjuangkan isu kelapa sawit di Eropa.

KBRI Stockholm dan Royal Institute of Technology (KTH), mengadakan seminar mengenai kontribusi tanaman pertanian khususnya sawit yang dihadiri sekitar 100 peserta yang mewakili institusi pemerintah, akademisi, pengambil kebijakan, produsen sawit, industri dan LSM.

Baca Lainnya : Tolak Tegas Didikte Soal Sawit, Indonesia Gelar Pertemuan WEF

"Kajian ilmiah salah satu universitas terkemuka di Stockholm, Royal Institute of Technology (KTH) menyebutkan ternyata kelapa sawit tidak merugikan lingkungan. Dengan catatan dilakukan dengan terukur dan seimbang," jelas Bagus di London, Jumat (1/2).

Bahkan sesuai dengan tujuan pembangunan PBB, pengembangan kelapa sawit justru  mengurangi kemiskinan.   

Tampil sebagai pembicara yang mewakili Indonesia yaitu Kepala Badan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri RI, Dr. Siswo Pramono dan Prof Ingrid Öborn yang keduanya mendukung temuan dalam kajian ilmiah dari KTH Swedia.

Di riset dan pengembangan tentang kelapa sawit masih dilihat secara parsial yang  menyudutkan negara pengekspor sawit. Padahal, semestinya harus dilihat secara keseluruhan, yaitu keputusan 'Bonn Challenge' tentang restorasi tanah, konvensi 'Aichi'  keanekaragaman hayati dan Persetujuan Perubahan Iklim di Paris.

Sementara itu, Linda Andersson dari Vi-Skogen mengatakan bahwa tujuan SDGs adalah untuk memerangi kemiskinan, bukan membuat jurang kemakmuran.

Baca Lainnya : Minyak Sawit untuk Biofuel Dilarang, Malaysia Batasi Impor dari Prancis?

Pandangan ini didukung Antonia Simon Stenberg dari Oriflame Cosmetic yang menyebutkan langkah pengeskpor sawit seperti Indonesia sudah tepat. Karena sudah melakukan berbagai upaya reformasi kebijakan, serta inisiatif konkrit lainnya yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.    

Sementara Dr. Andres Garcia dari Colombia menyatakan sawit tidak hanya berkontribusi secara ekonomi, tapi juga bermanfaat bagi upaya penyelesaian konflik di negara.

Salah seorang pakar Indonesia, Fumi Harahap yang merupakan kandidat Ph.D jurusan Eenergi dan Studi Iklim KTH menyatakan, perlunya mengkaji semua potensi dari "palm biomass residue".    

Sedangkan Tomas Dhalman, pembicara dari Swedia menyampaikan dukungan atas inisiatif penyelenggaraan seminar, sesuai dengan SDGs yang merupakan agenda prioritas bagi Swedia. Sektor kehutanan Swedia ujarnya, merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi perekonomian. Isu 'climate change' merupakan masalah global, karena itu perlu mengedepankan kerja sama antara seluruh masyarakat internasional. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: