Penutupan TN Komodo, Upaya Konservasi dan Dampaknya pada Sektor Pariwisata

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
01 Feb 2019   08:01

Komentar
Penutupan TN Komodo, Upaya Konservasi dan Dampaknya pada Sektor Pariwisata

Rencana penutupan TN Komodo tuai penolakan dari pelaku usaha pariwisata. (Foto : Istimewa)

Taman Nasional Komodo (TNK) merupakan salah satu taman nasional di Nusa Tenggara Timur yang memiliki satu-satunya hewan purba yang masih tersisa, yaitu komodo. TN seluas 173.300 ha ini meliputi wilayah daratan dan perairan, dan dikelola berdasarkan zonasi, yaitu: zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, zona tradisional, zona khusus dan zona perlindungan bahari.

Pada wilayah daratan, 70% merupakan ekosistem savana dan habitat komodo. Dari 146 pulau terdapat 8 pulau terfavorit kunjungan wisatawan yaitu Pulau Padar, Pulau Komodo, Rinca, Pulau Gili Lawa Daratan, Pulau Gili Lawa Lautan, Pulau Kambing, Pulau Kalong, dan Pink Beach di Pulau Komodo.

Pengunjung TNK saat ini mencapai 120 ribu orang per tahun atau sekitar 10 ribu orang per bulan. Menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Wiratno September silam, kunjungan wisata di TNK berkontribusi menyumbang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 29 milyar rupiah per tahun.

Saat ini, terdapat dua Izin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) di TNK yaitu PT. SKL di Pulau Rinca dan PT. KWE di Pulau Komodo dan Pulau Padar. PT. SKL diberikan IUPSWA di Pulau Rinca akhir 2015 lalu, seluas 22,1 Ha atau 0,1% dari luas Pulau Rinca 20.721,09 Ha. Sementara yang diizinkan untuk pembangunan sarana dan prasarana (Sarpras) maksimal 10% dari luas izin yang diberikan atau hanya seluas 2,21 Ha.

Sementara itu, PT. KWE mendapat IUPSWA di Pulau Komodo dan Pulau Padar pada September 2014, seluas 426,07 Ha, terdiri atas 274,13 Ha atau 19,6% dari luas Pulau Padar (1.400,4 Ha) dan 151,94 Ha atau 0,5% dari luas Pulau Komodo (32.169,2 Ha). Sarpras yang dapat dibangun sekitar 42,6 Ha.

Terkait areal usaha, dikatakan Wiratno, kedua izin ini berada di ruang usaha pada Zona Pemanfaatan. Prosedur penerbitan izin kedua perusahaan tersebut juga sudah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sebagaimana disyaratkan dalam aturan pembangunan dan pengembangan rencana pengelolaan tidak boleh mengganggu lintasan Komodo dan sarang Komodo.

Ancaman Hidup Komodo

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          

Tradisi Para Raja Jawa Blusukan ke Hutan Belantara

Karmin Winarta   Liputan Khusus
Bagikan:          
Bagikan: