Penutupan TN Komodo, Upaya Konservasi dan Dampaknya pada Sektor Pariwisata

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
01 Feb 2019   08:01

Komentar
Penutupan TN Komodo, Upaya Konservasi dan Dampaknya pada Sektor Pariwisata

Rencana penutupan TN Komodo tuai penolakan dari pelaku usaha pariwisata. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu pulau langka di dunia. Pasalnya, hanya di pulau inilah terdapat hewan melata yang namanya sama dengan nama pulau itu, komodo.

Seperti dilansir dari LiveScience, komodo dijuluki sebagai 'dinosaurus terakhir di muka bumi'. Keberadaannya baru dikenal luas pada tahun 1910. Kala itu pemerintah kolonial Belanda mendengar kisah rakyat mengenai 'buaya yang hidup di darat'.

Beberapa tahun kemudian, sebuah makalah ilmiah terbit, mengidentifikasikan komodo sebagai kadal monitor. Nama latin Veranus komodoensis pun disematkan padanya. Mulai tahun 1915, Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk melindungi hewan langka itu. Pun mulai Indonesia berdiri, status hewan langka masih disematkan pada komodo.

Ukuran, karakteristik dan Habitat

Ukuran rata-rata komodo jantan adalah 8 sampai 9 meter dan sekitar 100 kg, Betina tumbuh sampai 6 kaki (1,8 m). Komodo memiliki berbagai warna, termasuk biru, oranye, hijau dan abu-abu. Kulit mereka kasar dan tahan lama, diperkuat dengan lempeng tulang yang disebut osteoderms. Mereka memiliki cakar yang panjang dan besar, serta ekor yang berotot.

Komodo memiliki penglihatan yang baik; mereka dapat melihat benda-benda sejauh 985 kaki (300 m), menurut Zoo Smithsonian. Mereka juga cepat. Mereka dapat berlari hingga 13 mph (20 kph) tetapi lebih memilih untuk berburu secara sembunyi-sembunyi – menunggu berjam-jam sampai mangsa melintasi jalan mereka.

Komodo sangat langka dan di alam liar ditemukan hanya di lima pulau, yaitu: Kepulauan Komodo, Rinca, Gili Montang dan Gili Dasami. Semua wilayah itu kini berada di dalam kawasan Taman Nasional Komodo dan pulau Flores, di mana Komodo menjelajah dengan bebas.

Habitat kadal bisa apa saja dari hutan tropis kering, sabana sampai sebuah hutan musim gugur. Tidak peduli di mana mereka tinggal, Komodo menyukai panas yang ekstrim. Hal ini biasanya sekitar 95 derajat Fahrenheit (35 derajat Celcius) dengan 70 persen kelembaban di pulau Indonesia.

Menurut studi terbaru yang diterbitkan di Prosiding Royal Society B, Rabu (14/11) lalu terungkap, komodo bukannya tak bisa menjajah daerah lain atau menguasai dunia, tapi mereka memang tidak ingin melakukannya. Sekelompok ahli yang mengamati komodo di empat pulau selama satu dekade mengungkap bahwa komodo ternyata tak pernah meninggalkan tanah kelahirannya sepanjang hidup. Padahal, jika komodo mau, mereka bisa menempuh puluhan mil dan melewati medan berat untuk sampai ke daerah lain.

Taman Nasional Komodo

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: