Pembangunan di Indonesia Kalah Cepat dengan Kejadian Bencana, Apa Sebabnya?

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
31 Jan 2019   19:00

Komentar
Pembangunan di Indonesia Kalah Cepat dengan Kejadian Bencana, Apa Sebabnya?

Kepala Pusdatin dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho. (Foto : Trubus.id/ Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Percepatan pembangunan untuk mencegah bencana banjir, seperti membuat bendungan hingga tanggul, masif dilakukan sejak 4 tahun terakhir. Namun sayangnya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menilai, pembangunan tersebut masih kalah cepat dengan kejadian bencana itu sendiri.

Sebelumnya, presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, salah satu hal tersulit untuk mempercepat pembangunan tanggul pencegah banjir adalah masalah pembebasan lahan. Sebagaimana diketahui, pembebasan lahan untuk dijadikan lokasi terkadang bisa menghabiskan waktu 1 hingga 2 tahun.

Celakanya, di rentang waktu tersebut, kejadian bencana alam bisa terjadi hingga beberapa kali karena munculnya beberapa faktor lain. Kondisi ini yang memunculkan penilaian kalau pembangunan kalah dengan kejadian bencana alam. 

Baca Lainnya : 98 Persen Bencana Hingga 31 Januari 2019 Akibat Bencana Hidrometeorologi

Salah satu contohnya, curah hujan yang semakin meningkat mengakibatkan bencana lebih rentan terjadi. Jika dulu curah hujan mencapai 100-150 mm per bulan dianggap tinggi, tapi curah hujan saat ini berada dikisaran 300 mm menjadi hal yang biasa. Padahal pembangunan bendungan untuk menampung curahan hujan belum bisa diselesaikan.

Menanggapi hal itu, Kepala Pusat Data Informasi (Pusdatin) dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho juga mengakui, upaya penanggulangan bencana khususnya banjir masih kalah cepat dengan laju degradasi lingkungan.

Degradasi lingkungan ini biasa terjadi karena lingkungan yang berubah akibat aktivitas manusia itu sendiri.

“Bencana yang terjadi saat ini adalah akumulasi dari kerusakan lingkungan. Kondisi ini mengakibatkan sebuah daerah semakin rentan dengan bencana khususnya banjir dan longsor,” terang Sutopo di Graha BNPB, Pramuka, Jakarta Timur, Kamis (31/1).

Lebih lanjut dikatakan Sutopo, daya tampung dan daya dukung lingkungan, khususnya di Pulau Jawa sudah terlampaui bahkan dari 10 tahun lalu. Upaya-upaya terkait dengan pemulihan lingkungan baik itu konservasi tanah dan air hingga rehabilitasi hutan dan lahan, termasuk pembangunan tanggul, dinilai masih kalah cepat dengan terjadinya bencana akibat kerusakan lingkungan.

Baca Lainnya : Jokowi Perintahkan BNPB Kawal Rekonstruksi Daerah Terdampak Bencana 

“Sekarang ini alam semakin ringkih, contohnya dulu daerah-daerah yang tidak rawan bencana banjir sekarang jadi rawan bencana banjir seperti yang terjadi di Kota Bandung,” lanjutnya.

Sebagai informasi, dahulu Kota Bandung dan Wonosobo yang berlokasi di dataran tinggi tidak terjadi banjir. Namun kini kondisi itu sudah berubah. Bertambahnya jumlah penduduk pada akhirnya memicu daerah-daerah tersebut berubah menjadi daerah rawan banjir.

“Jadi yang dikatakan oleh Kementerian PUPR memang betul. Bayangkan 14,1 juta lahan kritis di Indonesia, sementara pemulihan untuk merehabilitasi maksimum setahun 250 ribu hektare, jadi di satu sisi kerusakan lingkungan 1 juta hektare per tahun tapi kemampuan kita untuk merahabilitasi hanya sebesar 250 ribu hektare per tahun,” ujar Sutopo menambahkan. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait