Populasi Berlebihan, Monyet Ekor Panjang Ancam Pemukiman Warga

TrubusNews
Astri Sofyanti
31 Jan 2019   11:30 WIB

Komentar
Populasi Berlebihan, Monyet Ekor Panjang Ancam Pemukiman Warga

Monyet ekor panjang (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Akibat populasi yang semakin meningkat, monyet ekor panjang yang berada di kawasan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) turun gunung dan masuk ke pemukiman warga di Desa Mekarwangi, Lembang, Bandung Jawa Barat.

Warga setempat mengakui terancam akibat kehadiran puluhan monyet tersebut. Dilaporkan, monyet ekor panjang itu mengambil makanan dan merusak rumah warga.

"Kawanan monyet itu merusak rumah, genteng bocor, kabel putus, kanopi penyok dan sebagainya," terang Zaki, salah satu warga setempat di Bandung, Jawa Barat, Kamis (31/1).

Lebih lanjut Zaki mengatakan, buah-buahan yang ditanam warga di makan oleh kawanan monyet tersebut. Diakuinya Gangguan monyet itu sudah dirasakannya sejak dua tahun lalu. Daerah ini berdekatan dengan kawasan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura).

Baca Lainnya : Jelang Pemilu, Parlemen India Malah Digeruduk Monyet

Lebih lanjut Zaki menuturkan, bahwa dirinya telah mengeluarkan uang sebesar Rp20 juta untuk meminta bantuan otoritas terkait untuk menangkap monyet-monyet tersebut. Namun ternyata, cara tersebut bukan solusi yang tepat, karena kawanan monyet terus berdatangan.

"Solusinya enggak jelas, kita sudah mengikuti arahan dari BBKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), nyatanya ya begitu," ujar Zaki.

Sementara itu, Kantor Dinas Kehuhatan Jawa Barat, kawasan Konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) diketahui mengalami overpopulasi (kelebihan populasi) monyet ekor panjang.

Akibatnya, monyet kekurangan sumber makanan di habitat aslinya, lalu keluar dari hutan dan mencari makan ke pemukiman di sekitar kawasan Tahura, kata pejabat Dishut Jabar.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Jawa Barat, Epi Kustiawan menyebutkan, populasi monyet dengan nama latin Macaca fascicularis ini mencapai lebih dari 600 ekor.

Baca Lainnya : Malaria Monyet Melanda Aceh, Dua Warga Jadi Korban

"Jumlah itu terlalu padat bagi kawasan Tahura yang luasnya hanya 528 hektar," kata Epi.

Terlebih kawasan Tahura berbentuk seperti keris yang lurus memanjang sehingga ruang jelajah monyet terbatas.

Menurutnya, tumbuhnya pemukiman di sekitar Tahura juga turut memancing monyet keluar dari habitatnya.

Terjadinya overpopulasi monyet ekor panjang, diakui Epi, disebabkan kelahiran monyet yang tidak terkendali.

"Hewan primata itu memiliki sex ratio yang tinggi," ujar Epi.

Satu monyet jantan bisa mengawini 25 ekor monyet betina dengan tingkat kelahiran lebih dari 3 ekor dalam sekali kelahiran.

Baca Lainnya : Viral, Monyet Afrika di Jatim Park Zoo 2 Disembur Uap Rokok Elektrik

Dinas Kehutanan Jabar sebagai pengelola Tahura hingga saat ini mengakui belum menemukan cara untuk mengendalikan kelahiran monyet ekor panjang.

Hingga saat ini dikatakan Epi, pihaknya belum terpikir untuk melakukan sterilisasi, khususnya pada monyet jantan.

"(Sterilisasi) belum. Saya juga belum mempelajari caranya. Saya kira itu menarik juga kalau dipelajari. Metodenya bisa si raja monyetnya disterilkan. Cuma nangkap rajanya gimana, susah," jelas Epi.

Sejauh ini, Dishut Jabar mengendalikan populasi monyet ekor panjang di Tahura dengan cara menangkap dan memindahkannya ke kawasan konservasi lain, bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.

Sementara itu, diakui Epi, untuk menambah sumber makanan, Dishut Jabar sudah menanam Pohon Kaliandra dan biji-bijian yang digemari monyet. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: