Di Hari Primata Indonesia 2019, Aktivis Serukan Aksi Stop Perburuan

TrubusNews
Syahroni
30 Jan 2019   22:30 WIB

Komentar
Di Hari Primata Indonesia 2019, Aktivis Serukan Aksi Stop Perburuan

Kukang jadi salah satu hewan terancam punah yang masih banyak diburu. (Foto : Animal Rescue)

Trubus.id -- Di antara lebih dari 600 jenis primata (bangsa kera dan monyet) di dunia, setidaknya 40 jenis dapat ditemukan di Indonesia. Namun menurut data dari Profauna, lebih dari 80% primata di Indonesia berada dalam kondisi terancam punah. 

Mirisnya, ancaman kepunahan primata itu datang dari aktivitas manusia. Deforestasi yang berujung pada kehilangan habitat, perburuan liar dan perdagangan gelap yang dinilai mampu mempercepat kepunahan mereka. 

Berbekal kekhawatiran itu, di Hari Primata Indonesia yang jatuh tepat pada hari ini (30/1), sejumlah aktivis Profauna di Jawa Barat menggelar aksi di depan Gedung Sate. Mereka menyerukan untuk menghentikan aksi perburuan hewan primata di Indonesia.

Baca Lainnya : Para Pecinta Primata Kecam Pertunjukan Topeng Monyet

Dalam aksinya, mereka meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun penegak hukum di Jabar untuk proaktif dengan mengeluarkan kebijakan penggunaan senjata api yang kerap digunakan pada perburuan hewan primata.

Mereka menilai, saat ini kondisi perburuan primata sudah cukup memprihatinkan. Pasalnya, perburuan kini sudah tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi namun sudah menjadi sebuah kepuasan individu untuk hobi maupun diunggah di media sosial. Motif ini yang akhirnya mampu meningkatnya perburuan satwa primata di hutan-hutan di Jabar.

Kordinator ProFauna Indonesia Representatif Jabar, Nadya Andriani menyebut, tahun ini pihaknya mengusung tema stop perburuan primata karena kondisi dari tahun ketahun kondisi perburuan ternyata semakin meningkat bukan hanya perburuan untuk motif ekonomi tapi juga untuk hobi.

"Kelompok pemburu yang hobby justru itu meningkat. Menggunakan senapan angin,"kata dia.

Menurut dia, di Jabar itu walaupun sudah ada aturan penggunaan senapan angin dari Polres dan Polrertabes tapi memang aturan tersebut masih lemah penegakannya. Penegakkan aturan tersebut sampai saat ini belum menuju masif.

"Untuk itu maka aksi ini diadakan. Kenapa di depan Gedung Sate karena pemprov Jabar harus melihat ini sebagai suatu masalah yang harus dibuat aturan khsusus dari Pemprov," kata dia.

Baca Lainnya : Puluhan Aktivis di Tasikmalaya, Ajak Masyarakat Lindungi Primata

Adapun wilayah yang dikhawatirkan, kata dia, wilayah Sumedang,  hutan Tasikmalaya dan Kabupaten Bandung Barat. Ironinya pemburu datang dari daerah lain bukan dari Jabar. 

"Kami pernah temukan di Sumedang daerah Citengah pemburu setruk diturunkan. Provinsi diharapkan bikin aturan senjata angin untuk mencegah. Terlebih sekarang ini penegakan masih lemah karena polisi hutannya pun kurang," ucap dia.

Adapun jenis primata yang diburu paling banyak lutung dan kukang. "Kukang itu termasuk empat jenis yang terancam punah. Kukang Jawa," ujar dia. 

Nadya mengatakan, hasil perburuan mereka selain untuk diperjualbelikan, ada juga yang dipelihara, ada juga yang ditembak mati kemudian diunggah di medsos. Berdasarkan pantauan mereka selama 2018 ada 12 kasus pengunggahan pembunuhan primata di Indonesia. [RN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Korban Tewas Akibat Covid19 Bertambah Jadi 1.800 Orang

Peristiwa   18 Feb 2020 - 14:22 WIB
Bagikan: