Tolak Tegas Didikte Soal Sawit, Indonesia Gelar Pertemuan WEF

TrubusNews
Thomas Aquinus | Followers 2
30 Jan 2019   10:30

Komentar
Tolak Tegas Didikte Soal Sawit, Indonesia Gelar Pertemuan WEF

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah pertemuan lanjutan antara Forum Ekonomi Dunia (WEF), Bank Dunia (WB), dan Program Lingkungan PBB (UNEP) pada Maret 2019 nanti. Pertemuan tersebut menindaklanjuti pertemuan serupa di Davos, Swiss pada pekan lalu yang juga dihadiri Indonesia.

Saat pertemuan di Davos, Indonesia yang diwakili Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan tiga topik utama yakni tentang industri kelapa sawit, isu lingkungan yang berkaitan dengan plastik, dan blended finance atau skema pembiayaan yang bersumber dari filantropi.

Di depan mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Al Gore dan tokoh-tokoh penting lain dari berbagai negara, Luhut mengungkapkan dengan tegas bahwa kebijakan Indonesia dalam menangani tiga isu utama di atas, terutama tentang sawit. Menyoal soal sawit dikatakan Luhut memang menjadi perhatian utama karena Uni Eropa sempat menerbitkan resolusinya yang merugikan industri sawit Indonesia.

Baca Lainnya : Minyak Sawit untuk Biofuel Dilarang, Malaysia Batasi Impor dari Prancis?

Sebelumnya, Uni Eropa telah menggunakan isu lingkungan untuk menekan produk sawit dari Indonesia.

"Sawit ini menyangkut 17,5 juta petani, kami tidak usah diajarkan. Kalau petani menderita itu jadi masalah buat kami karena SDGs nomor 1 tentang kemiskinan kami selesaikan dengan program kelapa sawit. Kami juga sudah moratorium, jadi jangan dikte kami," terang Luhut di Kompleks Istana Negara, Selasa (29/1).

Pernyataan Indonesia yang disampaikan oleh Luhut ternyata punya dampak. Pada 12 Maret nanti Indonesia akan disambangi WEF, Bank Dunia, dan UNEP untuk mendengarkan penjelasan pemerintah soal isu-isu tersebut. Luhut juga mengungkapkan bahwa ketiga lembaga tersebut menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah Indonesia karena telah memiliki solusi berkelanjutan dalam menangani permasalahan sawit dan lingkungan.

"Kami dengarkan masukan. Kami bukan negara miskin, kami negara kuat. Statement itu ternyata punya dampak. Sehingga tanggal 12 Maret diatur pertemuan di Jakarta. Mereka mengapresiasi Indonesia membuat kemajuan yang sangat signifikan," ujar Luhut.

Baca Lainnya : Ambisi Techno Park Pelalawan Tingkatkan Produksi Turunan Sawit di Indonesia

Sebelumnya Luhut mengungkapkan kepada mereka bahwa pemerintah Indonesia terbuka terhadap peluang kerja sama, termasuk terhadap saran dan masukan, tapi tidak akan menerima niat dari pihak manapun yang mau mendikte Indonesia.

"Pemerintah Indonesia mau duduk bersama UNEP, World Bank, dan komunitas World Economic Forum untuk mencari tahu apa yang bisa dilakukan bersama," terang Luhut.

Baca Lainnya : Harga Minyak Sawit Indonesia Terjerembab Meski Pakistan Catat Rekor Tertinggi Pembelian

Dijelaskannya, pemerintah telah memahami permasalahan terkait kehutanan. Luhut juga menyebutkan, masalah deforestasi harus diselesaikan dengan menemukan titik keseimbangan antara tercapainya kelestarian lingkungan, kesejahteraan rakyat, ketahanan pangan nasional, dan konsistensi penerapan peraturan perundang-undangan.

"Harus dilihat ekuilibriumnya, bagaimana kami menangani masalah lingkungan, bagaimana kami juga harus menjamin nafkah masyarakat, dan bagaimana kami harus menghormati regulasi yang diterbitkan oleh rezim pemerintahan sebelumnya, serta ketahan pangan," ujar Luhut di Davos. [NN] 

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: