Kementan Atasi Penyakit Rabies di 35 Desa di Dompu

TrubusNews
Karmin Winarta
23 Jan 2019   12:00 WIB

Komentar
Kementan Atasi Penyakit Rabies di 35 Desa di Dompu

Direktur Kesehatan Hewan di Dompu (Foto : Dok Kementan)

Trubus.id -- Kementan melalui Direktur Kesehatan Hewan, Fadjar Sumping Tjarur Rassa menyampaikan, berdasarkan data Statistik Kabupaten Dompu mempunyai 8 Kecamatan dan 81 Desa, dari laporan yang diterima terdapat 35 desa di 6 Kecamatan ada kasus Hewan Pembawa Rabies (GHPR).

“Jadi hampir 43% dari seluruh wilayah di Kabupaten Dompu ada kasus gigitan dan hanya 2 kecamatan saja yang belum melaporkan”, ungkapnya.

Ia katakan bahwa Timnya di lapangan telah melakukan diskusi dengan Bupati Kabupaten Dompu pada hari Minggu (20/02) terkait kegiatan yang akan dilaksanakan. 

Baca Lainnya: Tekan Penyakit Anjing Gila, Kementan Bagikan 1,5 Juta Vaksin Antirabies

“Fokus pertama yang akan dilakukan Tim mengurangi kasus GHPR dengan melakukan pengendalian populasi, khususnya anjing-anjing yang tidak berpemilik terutama di 5 (lima) Kecamatan yaitu Kecamatan Kempo, Manggelewa, Pajo, Dompu dan Woja”, ungkap Fadjar Sumping. 

Lebih lanjut Fadjar Sumping menyebutkan, Tim Gabungan Ditjen PKH dan Dinas telah mengambil sampel dari hewan yang telah mengigit manusia. “Sampel tersebut diperiksa di BBVet Denpasar yang diambil di 3 (tiga) kecamatan yaitu Kecamatan Manggelewa, Kempo, Dompu, dan hasil pemeriksaan menunjukan beberapa sampel positif rabies”, tambahnya. 

Untuk penanganan kasus rabies di Dompu, Kementerian Kesehatan langsung memberikan bantuan Vaksin Anti Rabies (VAR) sebanyak 600 vial dan 40 vial SAR, sedangkan Ditjen PKH memberikan bantuan vaksin Rabies sebanyak 3.000 dosis, dimana pelaksanaan vaksinasi akan dilakukan secara massal dan serentak di Desa yang terdapat kasus rabies. 

Baca Lainnya: Sejak Tahun 2016 Hingga Kini, Sudah 4 Warga Riau Tewas Karena Virus Rabies

“Kita akan lakukan vaksinasi yang dikosentrasikan kepada hewan-hewan berpemilik, khususnya di desa yang dilaporkan tinggi kasus gigitan”, kata Fadjar Sumping. Menurutnya, kegiatan vaksinasi ini mempunyai tantangan di lapangan, yaitu pola pemeliharaan anjing yang diliarkan oleh pemilik.

Ia katakan bahwa anjing-anjing di wilayah tersebut kebanyakan mempunyai tugas sebagai penjaga ladang dan berburu, hal ini menyebabkan petugas kesulitan untuk menangani/menghandle hewan tersebut untuk dapat divaksinasi.

Untuk lebih meningkatkan keterampilan dari petugas di lapangan pada hari Minggu (20/01) juga telah dilakukan penyegaran tentang penyakit Rabies dan Bimbingan Teknis tentang tata cara pelaksanaan vaksinasi yang dilakukan oleh Tim dari Ditjen PKH. “Dukungan dari masyarakat sangat diperlukan, diantaranya segera melaporkan jika ada kasus gigitan HPR kepada petugas setempat”, tutur Fadjar Sumping.

“Tim kami juga telah melakukan wawancara dengan masyarakat setempat, berdasarkan hasil penelusuran diperoleh informasi tentang adanya kebiasaan masyarakat untuk memasukan anjing yang berasal dari luar daerah”, ungkap Fadjar. Sehingga menurutnya ada kemungkinan besar anjing yang masuk berasal dari wilayah Flores, namun tidak menutup kemungkinan berasal dari wilayah tertular lainnya seperti Propinsi Bali dan Sulawesi.

Untuk itu, Ditjen PKH melibatkan Karantina Pertanian terkait dengan pelaksanaan pengawasan lalu lintas hewan di pintu-pintu masuk dan keluar.  

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: