Keberlangsungan Hidup Orangutan di 2019 Masih Terancam

TrubusNews
Thomas Aquinus
23 Jan 2019   09:30 WIB

Komentar
Keberlangsungan Hidup Orangutan di 2019 Masih Terancam

Orangutan (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) memperkirakan tingkat ancaman terhadap spesies orangutan akan meningkat pada 2019. Untuk itu mereka menilai, konservasi terhadap satwa dilindungi tersebut terus dilakukan secara serius.

Direktur YOSL-OIC, Panut Hadisiswoyo mengungkapkan, tingkat ancaman terhadap orangutan masih didominasi oleh tingkat perambahan habitat orangutan. Tak hanya itu, selain orangutan ancaman kepada satwa dilindungi lainnya juga masih tinggi.

Berdasarkan data yang dihimpun, selama 2017, YOSL-OIC telah mengevakuasi enam orangutan yang habitatnya tergusur. Selain itu, mereka juga menyita dua ekor orangutan yang diserahkan masyarakat.

Bahkan tahun ini, mereka juga mengevakuasi enam ekor orangutan. Namun pada jumlah sitaan meningkat menjadi tiga ekor. "Itu data di Sumatera Utara. Mayoritas kita dapat di Langkat," ujar Panut, Selasa (22/1).

Baca Lainnya : Lucunya Bintan, Bayi Orangutan Baru Lahir di Taman Safari Lagoi

Panut menilai, tindak pidana perburuan dan perambahan hutan masih mengintai kelangsungan hidup orangutan.

"Penilaian kami, pekerjaan konservasi ini tidak bisa berhenti. Karena kalau idealnya, kita tidak lagi patroli; kita tidak lagi evakuasi; rescue; menyita. Itu kondisi idealnya," katanya.

Dijelaskan Panut, bukaan hutan juga mengalami penigkataan di tahun ini. Artinya, tingkat fragmentasi habitat satwa juga semakin tinggi.

"Ada potensi bukaan hutan yang berpotensi menambah tingkat ancaman. Misalnya, Jalan Karo-Langkat itu sudah di Hot-Mix. Kalau tidak ada pengawasan yang ketat, maka akan ada perambahan di sekitar jalan dan sebenarnya sudah terjadi di Tahuranya," terangnya.

Baca Lainnya : Perluasan Lahan Sawit di Aceh Ancam Habitat Orangutan

Namun disisi lain, YOSL-OIC melihat hal positif. Khususnya pada blok hutan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Besitang. Kawasan yang terkenal menjadi sentral perambahan kini tidak ditemukan penambahan pada perambahan hutan.

"Artinya kerja keras kita di tahun sebelumnya bersama BBTNGL membawa hal yang positif," katanya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, selain orangutan yang mereka sita dari masyarakat pedesaan. Namun di Aceh, teranyata ada juga beberapa yang disita dari pejabat yang memeliharanya.

Baca Lainnya : Meski Ancam Habitat Orangutan, PLTA Batang Toru Diklaim Ramah Lingkungan 

Untuk itu, proses penyadaran masyarakat terhadap pentingnya orangutan terus dilakukan. Sehingga, kesadaran masyarakat semakin tinggi.

"Sekarang ini indikasinya, masyarakat sudah cukup sadar untuk memberitahukan ada orangutan ke tim kita. Jadi responnya cukup cepat. Potensi pengambilan orangutan ketika berkonflik dengan manusia semakin rendah. Karena tingkat kesadarannya makin tinggi," pungkasnya. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Indonesia Jadi Contoh Negara Lain Manfaatkan Biodiesel

Peristiwa   09 Des 2019 - 17:39 WIB
Bagikan:          
Bagikan: