Material Longsor Gunung Anak Krakatau Capai 80 Juta Ton, Begini Penjelasan Badan Geologi

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
22 Jan 2019   12:32

Komentar
Material Longsor Gunung Anak Krakatau Capai 80 Juta Ton, Begini Penjelasan Badan Geologi

Gunung Anak Krakatau (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan material longsoran Gunung Anak Krakatau (GAK) yang mengakibatkan tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu volumenya mencapai 80 juta meter kubik atau serata degan 80 juta ton.

Tapi sampai saat ini, Badan Geologi belum menemukan penyebab sebenarnya longsoran itu terjadi.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi Badan Geologi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan. Pihaknya menyatakan bahwa longsor Gunung Anak Krakatau sebagai penyebab tsunami.

Baca Lainnya: Pengungsi Korban Tsunami Pastikan GAK Aman untuk Pulang

Lebih lanjut dikatakan Hendra, untuk menentukan kenapa longsor itu terjadi, Hendra dan pihaknya mengaku belum mendapat jawaban konkret.

"Jelas massa yang bergerak, hanya saja kenapa? Dulu-dulu kan sama kejadiannya,"terang Hendra di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Diakuinya, Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api dengan aktivitas tinggi sejak lama sehingga kemungkinan longsor itu terjadi tak hanya pada 22 Desember lalu.

Besar kemungkinan dikatakan Hendra, ada proses geologi lain yang akhirnya menyebabkan pergerakan massa dalam jumlah yang signifikan lalu memicu tsunami.

"Gempa bukan pertama kali, meletus bukan pertama kali, tremor bukan pertama kali. Hanya kenapa pas hari itu? Itu masalahnya," ujar Hendra menambahkan.

Baca Lainnya: Jelang Tahun Baru, 33.316 Korban Tsunami Selat Sunda Masih Bertahan di Pengungsian

Sebagaimana diketahui, longsoran yang menyebabkan erupsi, 22 Desember kemarin terbukti sangat menghancurkan.

“Ada 80 juta meter kubik atau 80 juta ton material jatuh ke laut. Volume itu berarti setara dengan 288 ribu unit pesawat Airbus A380-800. Diketahui berat Airbus A380-800 kosongan atau tanpa penumpang sekitar 28 ton,” terang Hendra.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: