Miris, 10 Desa di Kepulauan Bangka Belitung Masih Rawan Stunting

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
21 Jan 2019   17:00

Komentar
Miris, 10 Desa di Kepulauan Bangka Belitung Masih Rawan Stunting

Angka penderita stunting di Bangka Belitung masih cukup tinggi. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Badan Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP2KBP3A) Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mencatat sebanyak 10 desa di wilayah tersebut masih rentan masalah stunting.

Untuk itu, (BP2KBP3A) Kabupaten Bangka Belitung, tahun ini akan fokus menangani masalah gizi buruk yang dapat memicu terjadinya stunting pada anak.

Sekretaris BP2KBP3A Kabupaten Bangka, Boy Yandra mengatakan, ke-10 desa yang menjadi fokus penanganan kasus tersebut meliputi Desa Rukam, Kota Kapur, Penagan, Air Duren, Mendo, Maras Senang, Neknang, Baturusa, Riding Panjang, dan Desa Cengkong Abang.

Baca Lainnya : Tahun 2019, Kemenkes Masih Tetap Fokus Perangi Stunting

"10 desa itu terdapat di empat kecamatan yakni di Kecamatan Mendo Barat, Kecamatan Merawang, Kecamatan Puding Besar, dan Kecamatan Bakam," kata Boy di Dungailiat, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, Senin (21/1).

Dikatakan Boy, persoalan stunting masih menjadi perhatian serius untuk segera diatasi sebagaimana program nasional yang mengharuskan bagi pemerintah daerah untuk menyelesaikannya masalah perbaikan gizi secara terpadu.

"Instansi yang terlibat penanganan kasus ini selain dari BP2KBP3A Dinas Kesehatan, Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), kader keluarga berencana, pemerintah desa dan lainnya," lanjutnya.

Diakui Boy, penanganan stunting dilakukan dengan cara meningkatkan sosialisasi bahayanya kepada ibu hamil dan keluarga yang memiliki balita di setiap kegiatan yang ada baik di posyandu mau pun kampung keluarga berencana.

Baca Lainnya : Menkes Ajak Masyarakat Indonesia Perangi Stunting

"Sosialisasi mengenai gizi buruk diperlukan sekali untuk memberikan pemahaman terutama bagi ibu hamil yang belum sepenuhnya mengetahui pentingnya kesimbangan gizi untuk balitanya," ujarnya menambahkan.

Sebagaimana diketahui, penyebab terjadinya gizi buruk didominasi dengan masih rendahnya pemahaman ibu hamil mengenai pentingnya gizi termasuk penyebab lainnya seperti, kurangnya tindakan pencegahan di awal kelahiran, kelahiran dengan berat badan yang rendah dan Infeksi yang berasal dari lingkungan buruk.

"Saya berharap dengan adanya sosialisasi terkait bahaya stunting. Masyarakat, khususnya ibu-ibu, lebih memahami bagaimana harus bertingkah laku saat hamil dan merawat balita," pungkas Boy. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: