Pecatan TNI Kuasai 1.500 Hektare Cagar Biosfer GSK-BB, Riau

TrubusNews
M Syukur | Followers 2
21 Jan 2019   16:30

Komentar
Pecatan TNI Kuasai 1.500 Hektare Cagar Biosfer GSK-BB, Riau

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Balai Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah II Sumatera tengah berpacu dengan waktu agar berkas perkara perambah Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (CG GSK-BB) lengkap. Pasalnya, masa penahanan pelaku yang merupakan pecatan TNI akan segera habis.

Baru-baru ini, Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah II Sumatera, Eduwar Hutapea menyebut, pihaknya kembali menerima berkas dari jaksa atau P19 dengan sejumlah petunjuk. Salah satunya penyidik diminta menyertakan surat resmi pemecatan terduga berinisial S dari TNI.

"Kemudian soal kompetensi pengadilan, bahwa yang mengadili itu adalah pengadilan umum karena tersangka pecatan TNI. Makanya harus ada surat pemecatan itu," kata Eduwar.

Baca Lainnya : Lawan Perambahan, 2.000 Hektare Lahan di TNTN Direvitalisasi Hingga Tahun Depan

Dia menjelaskan, PPNS Gakkum KHLK Wilayah II Sumatera tengah mengurus surat tersebut ke Komando Daerah Militer 01 Bukit Barisan. Namun, hingga kini pihaknya belum menerima balasan surat permohonan dari PPNS Gakkum KLHK.

Eduwar memastikan, jika surat tersebut dapat dilengkapi, maka berkas perkara yang sempat beberapa kali bolak-balik itu segera lengkap atau P21 dan dilanjutkan dengan Tahap II.

Dalam kasus ini, terduga S terungkap menguasai 1.500 hektare lahan di kawasan hutan lindung yang telah diakui oleh Unesco tersebut. Tersangka mengklaim memperoleh lahan tersebut dari ninik mamak atau tetua adat di wilayah itu. 

Baca Lainnya : Terungkap, Freeport Manfaatkan 4.535,93 Ha Hutan Lindung Papua Tanpa Izin

"Meskipun klaim itu benar tetap saja itu ilegal karena berada persis di kawasan hutan lindung," tegas Eduwar.

Sementara itu, dari 1.500 hektare lahan yang dikuasai tersangka, 300 hektare di antaranya telah selesai dibersihkan dengan menggunakan tiga unit alat berat. Ketiga alat berat itu saat ini menjadi barang bukti saat kegiatan tersangka terendus tim gabungan KLHK, TNI dan Polri pada awal Desember 2018 lalu.

Sebelumnya, S yang berpangkat terakhir Sersan Mayor ditangkap petugas gabungan pada 6 Desember 2018 lalu. Saat itu, ada empat pelaku yang diamankan, yakni S dan ketiga anak buahnya. Hanya saja, tiga pelaku lainnya tidak terbukti dan dilepaskan.

Baca Lainnya : KLHK Kembali Menangkan Gugatan atas Korporasi Pemegang Konsesi

Sementara S sendiri pernah terlibat kasus perambahan hutan di wilayah yang sama pada 2014 silam. Saat itu, aksi perambahan tersebut berujung pada insiden kebakaran hutan hebat di wilayah itu. Kala itu dia dihukum empat tahun penjara dan dicopot dari satuannya.

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu merupakan kawasan konservasi yang  mendapat pengakuan sebagai cagar biosfer dari UNESCO pada 2009 dengan total luasnya mencapai 178.722 hektare (ha). Terdiri dari zona inti berupa Kawasan Suaka Margasatwa (KSM) Giam Siak Kecil dan KSM Bukit Batu di Kabupaten Siak dan Bengkalis, Riau.

Namun, perambahan dan okupansi liar menjadi masalah besar yang terus menggeregoti hutan lindung paru-paru dunia tersebut. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: