Pemerintah Terus Promosikan CPO Ramah Lingkungan di AS

TrubusNews
Binsar Marulitua
21 Jan 2019   13:00 WIB

Komentar
Pemerintah Terus Promosikan CPO Ramah Lingkungan di AS

CPO (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita menjawab sejumlah kritikan terkait  minyak kelapa sawit (CPO) sebagai ancaman bagi lingkungan dalam  pembukaan Indonesia Palm Oil Forum  yang digelar di Amerika Serikat (AS). Promosi komoditas tersebut menekankan pentingnya perdagangan yang adil terhadap CPO Indonesia.

"Kami minta untuk menghapus praktik perdagangan diskriminatif dan tidak adil yang merugikan sektor minyak kelapa sawit karena kepentingan komersial yang restriktif dan kebijakan yang keliru,” kata dia dalam keterangan resmi dari Washington DC, AS.

Untuk menangkal isu negatif ekspansi perusahaan sawit terhadap lingkungan, Enggar juga menjelaskan pemerintah berkomitmen melakukan pengelolaan sawit berkelanjutan berbasis lingkungan melalui sejumlah langkah, seperti meluncurkan Indonesia Sustainability Palm Oil (ISPO) pada 2011 dan sertifikasi ISPO pada 2015. Saat ini, ISPO juga dalam tahapan perbaruan supaya lebih lebih efektif.

Baca Lainnya: Uni Eropa Kekeh pada Resolusi CPO, JK Ancam Balik

Selain itu, pemerintah sudah mengadopsi moratorium eksploitasi lahan gambut pada 2011. Kemudian, moratorium juga diperluas sehingga mencakup semua jenis pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit baru.

Pada 2015, ada juga kebijakan Instruksi Presiden tentang moratorium dan peningkatan pengelolaan hutan primer dan lahan gambut. Selanjutnya, pemerintah juga mendirikan Badan Restorasi Lahan Gambut setahun setelahnya.

Selain itu, pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 8 tentang Penundaan dan Evaluasi Izin Perkebunan Kelapa Sawit dan Peningkatan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit pada 19 September 2018.

Instruksi itu bermaksud untuk menerapkan langkah alternatif agar moratorium pembukaan lahan untuk perkebunan baru menjadi lebih efektif, sambil terus meningkatkan produktivitas kelapa sawit.

Ditambahkan Enggar, produksi CPO yang tinggi dapat melestarikan cadangan minyak global. Indonesia berupaya meningkatkan produktivitas CPO sekaligus mengatasi tantangan sosial dan lingkungan sehingga produksi CPO Indonesia tidak akan merusak alam.

Baca Lainnya: Ada Kampanye Hitam Minyak Sawit Indonesia di Eropa, Mentan Minta Tolong PBB

CPO dan produk turunannya, menurut dia berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Sebab, perkebunan kelapa sawit berkontribusi besar pada kehidupan masyarakat. “CPO dan turunanya berkontribusi pada pengentasan kemiskinan dan pengembangan daerah pedesaan serta mendukung pembangunan ekonomi nasional,” ujarnya.

Menurutnya, industri sawit juga perbandingan yang sama dengan industri penerbangan milik Boeing milik AS atau Airbus punya Uni-Eropa.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor CPO tahun 2017 mencapai US$ 20,34 miliar. Namun, pada 2018 ekspor sawit turun hingga 12,02% dengan nilai hanya US$ 17,89 miliar.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: