Komoditas Kedelai Ditinggalkan Petani Karena Kurang Menguntungkan

TrubusNews
Binsar Marulitua
19 Jan 2019   12:00 WIB

Komentar
Komoditas Kedelai Ditinggalkan Petani Karena Kurang Menguntungkan

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mengungkapkan salah satu kendala yang dapat mendorong petani menanam kacang kedelai adalah karena kurang menguntungkan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikutura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Probolinggo, Handaka, menjelaskan bahwa para petani cenderung menanam komoditas yang menguntungkan bagi mereka, seperti padi, jagung dan tembakau.

"Petani kita sebenarnya sudah pintar, mereka mau menanam yang benar-benar menguntungkan. Secara produktivitas memang kedelai belum bisa menguntungkan dari segi ekonomi dan perlakuannya lebih sulit," kata Handaka  di Jakarta.

Handaka menjelaskan secara hitungan kasar, rata-rata produktivitas kacang kedelai berkisar satu ton per hektare. Jika dijual dengan harga Rp5.000 sampai Rp6.000 per kilogram, pendapatan saat panen berkisar Rp5 juta - Rp6 juta.

Baca Lainnya : Produksi Kedelai di Kulonprogo Lampaui Target, Tapi...

Dari jumlah pendapatan tersebut, setidaknya biaya produksi bisa mencapai Rp3 juta sampai Rp4 juta, sehingga petani hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp2 juta.

Berbeda dengan komoditas jagung, produksi di Kabupaten Probolingga mencapai 6 ton per hektare dengan harga pipilan kering Rp5.000 per kilogram, sehingga totalnya bisa mencapai Rp30 juta. Jika dikurangi ongkos produksi sebesar Rp6 juta, maka petani masih bisa meraup keuntungan lebih besar daripada kedelai.

"Selama ini penyerapan jagung juga tidak ada kendala. Jagung dari petani sudah langsung ditebas, dibeli oleh pedagang juga kemudian untuk pakan ternak," ujar Handaka.

Sebelumnya, salah satu petani di Kabupaten Probolinggo, Sudiyanto, mengungkapkan memiliki tanah sekitar 700 meter persegi. Setelah panen jagung, pada musim tanam selanjutnya ia akan teruskan dengan menanam padi.

Baca Lainnya : Swasembada Kedelai pada 2020 Perlu Dikaji Ulang

"Kalau tanam kedelai tidak biasa di sini. Paling-paling setelah jagung, padi, lalu tembakau. Kan itu sudah pasti dibeli saat panen," kata dia.

Seperti diketahui, Kementerian Pertanian telah menargetkan swasembada kacang kedelai pada 2020. Berdasarkan data BPS pada 2018, kedelai Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, yang mana produksi Indonesia hanya sebesar 982.598 ton.

Sementara itu, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arief Nugraha, mengatakan peningkatan produktivitas kedelai bukanlah hal mudah karena diperlukan pembinaan dan pendampingan bagi petani kedelai.

Pembinaan dapat dilakukan antara lain dengan penggunaan benih, pupuk, dan sarana produksi lain yang tepat. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: